Jumat, 17 Februari 2012

Hotel Oranje



Ada pertanyaan dari sahabat saya Pak Bambang Hidajat soal "Hotel Oranje" di Surabaya, sekarang adalah Hotel Majapahit. Beliau menemukan foto menggambarkan hotel yang terkenal dalam peristiwa Bendera Surabaya tanggal 19 September 1945 itu, kok bisa muncul lagi pada sekitar tahun 50-an. Apa memang dikelola Belanda lagi ? Bung Hilmar Farid dan Prof Dr Firman Loebis mencoba menjawab dibawah ini :

Hilmar Farid.
Soal nama 'Oranje Hotel' setahu saya segera setelah perang Surabaya (sebelum 1949) hotel itu sudah balik ke tangan pemilik aslinya (yang ditahan Jepang). Nama resminya setahu saya diubah, tapi tulisan 'Oranje Hotel' dipertahankan terus. Contoh yang mirip, Hotel des Indes. Setelah dinasionalisasi 1960 jadi Hotel Duta, tapi nama des Indes tetap melekat sampai lama. Di bagian depan juga ada tulisan 'Hotel des Indes', tapi saya nggak tahu apakah dibiarkan atau dihapus setelah ganti nama.

Firman Loebis.
Oranje hotel betul setelah Jepang kalah dan sekutu mendarat (yang diboncengi tentara Belanda) dikembalikan lagi ke pemiliknya yang sudah bebas dari tahanan Jepang. Kalau tidak salah, pemiliknya warga Belanda keturunan Armenia. Kan waktu peristiwa penyobekan warna biru dari bendera Belanda oleh para pemuda terjadi di hotel ini yang berkibar diatas bangunannya? Jadi sesudah kembali ke pemiliknya menggunakan kembali nama Hotel Oranje. Setahu saya di tahun 1950-an masih menggunakan nama Hotel Oranje seperti terlihat di foto tersebut. Foto itu saya kira dibuat sekitar tahun 1957, Bung Hilmar benar setelah Bung Karno mengeluarkan "conseptie"nya mengenai demokrasi terpimpin. Menarik melihat tulisan di foto itu yang "consepsi", sudah diindonesiakan tetapi masih pakai huruf c. Saya tidak ingat persis kapan nama Hotel Oranje itu diganti dengan Hotel Madjapahit, mungkin sesudah pengusiran warga Belanda tahun 1957/1958 akibat persengketaan Irian Barat yang memuncak dan hotel ini diambil alih. Saya pernah baca sejarah hotel ini di brosur yang disediakan di hotel Majapahit ini ketika menginap disini di akhir tahun 1980-an. Jadi bisa dimintakan brosur itu ke hotel Majapahit sekarang. Saya ingat, hotel ini didesain oleh arsitek yang sama dengan hotel Raffles di Singapura! Terlihat di dome ruang tengahnya yang memang mirip dengan yang di hotel Raffles. Arsiteknya memang bagus dan antik sekali menurut saya. Waktu menginap disini di kamar yang besar dan antik, saya diceritakan bahwa katanya ada hantu Belanda disitu. Karena saya sudah biasa "berurusan dengan hantu Belanda" (karena waktu remaja suka main ke kuburan kober Belanda di Menteng Pulo yang tidak jauh dari rumah saya di jalan Guntur), saya sih senyum saja. Saya pikir, paling juga dimaki sama itu hantu: "god verdom zeg jij inlander slapen in mijn kamer"! Kan gampang jawabnya: "emangnye waarom meneer, niet zo ah, kan wij udah merdeka". Sepasang suami isteri teman saya orang Amerika yang pernah menginap di hotel ini tahun 1970-an ternyata membeli beberapa peninggalan berupa piring/gelas/sendok dll. sisa hotel Oranje dengan logonya yang asli. Mereka membelinya di hotel ini (?) katanya dan dengan senang menceritakannya kepada saya.


.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.