Kamis, 05 April 2012

Persiapan Memulai Rekaman Profesional

Kamu dan band sudah memiliki segudang lagu yang siap untuk mengalahkan single hits yang ada di televisi dan radio yang sekarang ini banyak didominasi band yang menurut aku kurang bermutu dan bisa mengakibatkan kuping geli. Kamu sudah mengirimkan demo ke berbagai label, tetapi sepertinya label yang kamu tuju tak sependapat dengan musik kamu. Tak mengapa, hal ini lumrah terjadi. Kenapa tidak merekam sendiri materi album kamu?

Meskipun namanya indie, proses merekam lagu ini tetap harus dilakukan secara professional dan tidak asal. Satu contoh mengerikan akibat proses rekaman yang asal, saya dengar dari sound engineer yang sehari-hari bekerja sebagai A&R sebuah label mayor di sela proses rekaman band saya.

“Band ini udah selesai rekaman, baru ketahuan materinya ngga layak edar. Padahal, mereka sudah menghabiskan uang sendiri hampir 40 juta selama proses rekaman itu,” katanya. Tentu saja batasan ‘tidak layak edar’ belakangan ini tidak seketat sebelumnya. Namun tetap saja, untuk memulai proses rekaman, ada hal-hal penting yang patut diperhitungkan.

Artikel ini sekedar berbagi dan merangkum proses yang sudah saya alami dalam merekam 4 EP dan 1 album selama kurang lebih 10 tahun ini. Saya mungkin tak akan membahas detail hal-hal dasar yang sudah umum, melainkan hal yang barangkali luput atau kurang diperhatikan.

 1.     Memilih Studio Rekaman
Langkah pertama sebelum rekaman tentunya memilih studio. Memang, kamar sendiri juga bisa dijadikan studio, sebagaimana beberapa musisi kamar yang berhasil menjadi tenar dari ruang tidur. Tetapi alat-alat yang digunakan haruslah memadai dan kamu sendiri paling tidak punya dasar pengetahuan yang baik tentang proses rekaman.

Jika kamu dan band tidak ingin direpotkan dengan hal-hal teknis, kamu bisa mencari studio sewaan. Satu hal yang harus diperhatikan, seringkali harga studio belum termasuk dengan sound engineer atau operator rekaman. Kamu bisa mendapat operator gratis saat latihan, tetapi untuk rekaman dibutuhkan sumber daya manusia yang lebih mumpuni. Dan karenanya, seringkali ada biaya ekstra.

Dalam menyewa studio, kamu bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan dana yang kamu miliki. Saat ini, harga rata-rata sewa sebuah studio di Jakarta yang murah adalah 500 ribu untuk satu shift (6 jam). Ada juga studio yang menyewakan sejumlah shift secara paket untuk satu album dengan potongan harga.
Cobalah untuk mencari tahu studio di daerah kamu, lantas bandingkan harganya dan bandingkan juga fasilitas yang akan kamu dapatkan. Sampai saat band saya menetap di Jakarta, kami selalu ‘pulang’ ke Bandung untuk rekaman. Selain sudah cocok dengan studionya, juga karena harganya lebih murah dibanding studio di Jakarta.

2.     Saya Ingin Rekaman dan Merilisnya
Ini adalah salah satu contoh ketidaktahuan band saya yang akhirnya menjadi pelajaran berharga. Saat membuat EP, hasilnya terdengar agak ‘mendem’ alias kurang layak dengar. Rupanya ada kesalahpahaman dengan pemilik studio. Ia mengira kami ingin membuat ‘demo’, sehingga alat dan sumber daya manusia yang digunakan tidak penuh.

Kali berikut kami masuk studio, dengan tegas kami katakan ingin rekaman dan merilisnya. Seketika pelayanan yang diberikan sangat jauh berbeda. Kami yang membawa alat sendiri, malah ditawari alat milik studio yang jauh lebih canggih. Amplifier juga ditukar dengan merk yang lebih baik. Dan tentu saja, seorang sound engineer yang sangat teliti hingga melakukan tes akustik ruangan. Persiapan rekaman pun akhirnya mejadi lebih rumit dan memakan waktu. Tetapi itulah proses yang harus dilalui untuk melakukan rekaman professional.

3.     Referensi Untuk Sound Engineer
Sound engineer atau operator rekaman adalah rekan kerja yang harus kamu hormati dan permudah pekerjaannya. Banyak yang menyepelekan sound engineer, sehingga menjadi sok tahu atau kurang jelas dalam menyampaikan apa yang diinginkan. Pada akhirnya menjadi kecewa dengan hasil rekaman yang tidak sesuai keinginan.

Sebagai musisi, kita bekerja dengan feeling/rasa. Sedangkan sound engineer bekerja dengan teknik. Karena itu kita perlu menyatukan persepsi/bahasa. Memberikan referensi adalah salah satu jalan keluarnya. Misalnya, kamu ingin sound distorsi tertentu. Untuk menjelaskan ini kepada sound engineer, bawalah CD band yang soundnya mirip seperti yang kamu inginkan.

Dengan kemampuan teknisnya, sound engineer akan membantu kamu mendapatkan sound yang diinginkan. Sebab, seringkali untuk mendapatkan sound tertentu, perlu menggunakan alat atau melakukan persiapan khusus. Ketika saya ingin merekam tamborin misalnya, rupanya harus setting ruangan dulu agar suara tamborin terekam seperti keinginan.

Jangan ragu untuk bertanya pada sound engineer mengenai apa yang kamu inginkan untuk lagu kamu dan siapkan materi referensi dan hal-hal yang dibutuhkan (menyetting alat sesuai anjuran, meminjam efek jika perlu, dan lain-lain) sebelum kamu masuk ke studio untuk rekaman.

4.     Masuk Studio dengan Aransemen Lengkap
Kebiasaan band saya sebelum rekaman (yang tak perlu diikuti juga, sih) selain ‘memandikan alat’ (pasang senar baru, ganti skin drum, dll) adalah latihan spartan 4 – 6 jam untuk mematangkan aransemen lagu. Banyak band-band pemula, yang mungkin karena kurang memahami proses (saya juga dulu begitu), tiba-tiba masuk studio ingin merekam lagu tanpa tahu apa yang mesti direkam.

Akibatnya, jatah shift studio habis hanya untuk mencari sound efek gitar, isian pada bagian solo, atau suara layer kibor. Sementara itu sound engineer jadi kurang kerjaan dan end up merokok dan minum teh botol diluar ruang studio karena (membiarkan) kita sibuk sendiri.

Karena itu, sempurnakanlah aransemen sebelum masuk studio. Sebab saat sudah direkam pun, kadang perlu dilakukan revisi. Tentukan efek gitar, suara kibor, hingga komposisi backing vocal sebelum kamu masuk studio.

5.  Buat ‘Guide’ di Luar Studio
Ini tips berharga dari sound engineer studio tempat saya rekaman. Karena sudah akrab, ia tak segan berbagi tips. Maka dari itu, SKSD-lah (Sok Kenal Sok Dekat) dengan sound engineer tempat kamu rekaman, karena ilmu mereka sangat berharga untuk dicuri. Hehe.

Agar rekaman lebih efektif dan tidak membuang jatah waktu shift, buatlah guide sebelum masuk studio. Guide adalah panduan saat kamu merekam nanti. Biasanya terdiri dari track dasar, gitar dan vokal saja. Pemain drum dan bass akan melakukan tracking (proses rekam) dengan menggunakan guide ini. Setelah mereka beres, guide dihapus, barulah gitar dan instrumen lain direkam mengikuti track drum dan bass.

Karena berfungsi sebagai panduan, seringkali merekam guide adalah proses pertama yang dilakukan (setelah setting alat) dalam rekaman. Proses ini cukup memakan waktu, apalagi jika lagunya cukup rumit. Karena itu, rekamlah guide di luar studio agar saat masuk studio kita bisa langsung merekam drum.

Hal penting yang harus diingat saat merekam guide adalah mencatat tempo yang digunakan. Ini adalah hal yang standar dalam rekaman. Tetapi, jangan salah. Banyak band yang tidak tahu tempo lagunya sendiri. Sehingga saat ditanya  oleh sound engineer, ”Temponya berapa?” – Ada yang asal jawab, “4/4”. Haha.

Padahal, tempo dihitung dalam satuan bpm (beat per minute). Standarnya  adalah 120 bpm untuk lagu bertempo sedang. Catatlah tempo dari setiap lagu kamu, dan usahakan berlatih dengan tempo yang sesuai agar dapat mengikuti metronome saat rekaman.

Nah, sekarang kamu dan band sudah mengetahui beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum memulai rekaman profesional. Selamat rekaman!

Sumber : www.amild.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.