Rabu, 24 Agustus 2011

KICK ANDY HOPE METROTV | TAK ADA KATA PUTUS ASA













TAK ADA KATA PUTUS ASA
Kenyataan  hidup   kadang  datang menyengsarakan. Tapi  haruskah  kita putusa asa?  Jika  jawaban anda  iya,  maka  mari belajar  pada nara sumber  di  Kick  Andy  Hope  kali ini.
Kisah pertama adalah tentang  seorang anak  berwajah manis  dari Pandeglang, Ade Sri Wahyuni.  Yuni,  panggilan  gadis itu, harus  mengalami kelumpuhan   sejak  kelas  4 SD,  setelah mengalami  panas  dan kejang-kejang.  Kakinya  tak  lagi bisa  difungsikan  untuk berjalan.  Di  dalam  rumah  ia  sering menggunakan  lututnya  sebagai  alas  kaki  atau menggunakan  kursi  roda.
Gadis  berusia  13 tahun ini,  lahir sebagai  anak  ke-3 dari  lima  bersuadara   di tengah  keluarga  yang sangat  sederhana.  Ayahnya,  Sayuti, adalah  seorang  pegawai  sebuah  bengkel di  kawasan  Anyer, Banten  dan  Ibunya, Sutihat, seorang  ibu  rumah  tangga.  Mereka tinggal  di desa Pabuaran, kecamatan Majasari, Pandeglang  Banten.  Sebuah  wilayah  pedesaan  yang tidak memungkinkan bagi Yuni  untuk  melakukan  mobilitas dengan kursi  roda di luar  rumah.
Dalam kondisi  seperti  itu,  Yuni  memiliki  anugrah  yang  teramat  besar  lewat  dua  sahabatnya Melayanti dan  Dina.  Karena  kedua  sahabatnya itulah Yuni bisa terus  semangat  dan bersekolah. Melayanti dan  Dina secara  bergantian  selalu  menggendong  Yuni  saat  berangkat  atau pulang  sekolah, tanpa pamrih. “Saya merasa kasian kalo  Yuni  gak sekolah,”  ujar  Mela saat  ditanya  alasannya mau menggendong.
Inilah  sebuah   persabahatan sejati  yang sudah langka  di  zaman  ini  dan  ditunjukan  lewat  kemurnian  hati  tiga  gadis  remaja  di  Pandeglang.  Selama  dua tahun, tepatnya  dari kelas  4 sampai kelas  6  SD, Yuni mendapat  bantuan dan perhatian penuh  dari  dua temannya  itu.
Karena kondisinya  itu, Yuni  mengaku  kadang suka  diejek  atau  diolok-olok  oleh  murid-murid  lain  di  sekolahnya, SD Karaton IV, Pandeglang. Meski  sering  sedih,  katanya,  tapi  ia terus  berusaha  kuat  untuk terus bersemangat.  Terutama  semangat  untuk  bersekolah  dan mengejar  cita-cita. Dan salah satu yang  selalu  membuat  Yuni   semangat adalah untaian kata dalam lirik  lagu kesukaanya “Senyum dan Semangat”,  milik  grup boy band favoritnya, Sm*sh.
Dengan  semangatnya  itu  pula, Yuni  yang memiliki  intelektual bagus itu, pernah menjadi juara saat mengikuti perlombaan olimpiade  MIPA, tingkat provinsi Banten.
Ketika   Kick  Andy  Hope  menemui Yuni, ia  baru  saja menerima kelulusannya  dari  Sekolah Dasar, dan  siap menempuh pendidikannya di tingkat  SMP.  Orang  tuanya  yang memiliki  ekonomi paspasan  sempat  menyampaikan kebingungan tentang kelanjutan  sekolah Yuni,  terlebih karena Yuni memiliki keterbatasan  secara fisik juga.
Meski keterbatasan sering dianggap menjadi  hambatan,  tapi  toh  Yuni  bias  melewatinya. Bahkan  di SMP Pembina, sekolah  barunya sekarang, Yuni  sudah menorehkan   prestasi sebagai  juara I  olimpiade  MIPA tingkat  Provinsi Banten dan bersiap-siap  mengikuti  kompetisi  tingkat  nasional.
Keterbatasan, kenyataan  hidup yang pahit, memang   hadir   untuk menguji  kekuatan. Dan Yuni  sudah menunjukkan  pada kita untuk menghapus  kata putus  asa  demi  masa  depan  yang lebih  bermakna.
Hal seperti   itu  juga  yang dialami  oleh  sosok pemuda  asal  bandung  Deradjat  Ginandjar  Koesmayadi,  alias  Ginan.  Karena  sebuah kesalahan  di masa lalu terjerumus  ke dunia  narkoba, maka  ia   harus  menerima  sebuah  kenyataan  pahit  bahwa ia terinfeksi  virus HIV positif.
Kenyataan   pahit  itu  ia  terima  di tahun 2000,  beberapa waktu   setelah  ia   memiliki kesadaran  untuk berhenti  menjadi  pecandu  narkotika, psikotropika, dan zat aditif atau  NAPZA.  Ginan  mengaku  sempat depresi,  Ginan sadar ia  masih  memiliki masa  depan  dan  pantang  berputus asa.
Pria  kelahiran  13 Juli  1980 ini pelan-pelan menata  hidupnya  kembali, menyelesaikan kuliahnya  di  sebuah  universitas  negeri  dan  kemudian  mendedikasikan hidupnya untuk   berbagi dengan sesama.
Tahun 2003  Ginan  bersama  4 orang temannya  yang  mantan pecandu  narkoba  membuat  sebuah  komunitas bernama  Rumah Cemara.  Sebagai  orang-orang  yang merasa   sering termarjinalkan, mereka   membangun Rumah Cemara  dengan tujuan  untuk  meningkatkan  kualitas  hidup  orang dengan HIV/AIDS dan  pecandu  narkotika, psikotropika, dan zat aditif atau  napza  di  Indonesia.   Visi lebih jauhnya  rumah   cemara   memimpikan  indonesia  bebas  dari   diskriminasi  terhadap orang dengan HIV/AIDS  dan pengguna narkoba  di Indonesia.
Khusus  untuk untuk mereka  yang masih  memakai dan kecanduan  napza organisasi  ini memiliki  program rehabilitasi  di pusat perawatan  Rumah Cemara.  Sampai  desember  2010, pusat perawatan  rumah  cemara  sudah  merehabilitasi   sekitar 398  pasien atau  yang mereka  sebut sebagai  residen.
Rumah cemara memiliki sekita staf  yang  hampir  seluruhnya  mantan pecandu dan    85% diantaranya  adalah  orang dengan HIV/AIDS. Namun  demikian,  kita  harus  acungi  jempol  atas  kerja  nyata  mereka.
Keseriusan  mereka  untuk  bersama-sama  meningkatkan kualitas  hidup  adalah  dengan melihat upaya-upaya  nyata lainnya yang mereka  lakukan selama  ini. Seperti  membangun jaringan  untuk menjalankan  manajemen kasus-kasu HIV/AIDS,   bekerja sama  dengan  rumah sakit, Dinas  Kesehatan. Dinas Sosial, Palang Merah Indonesia, Lembaga  Swadaya  masyarakat lainya.
Secara  rutin mereka  juga  menjangkau masyarakat yang  beresiko  tinggi maupun masyarakat  umum. Mereka  mendistribusikan  ribuan jarum steril dan kondom  gratis,  untuk meminimalisir penyebaran  virus HIV/AIDS.
Secara  sistematis  mereka  juga membuat  sistem konseling  dan  membagi  informasi  tentang efek  negatif  dari  narkoba  dengan lembaga-lembaga  lain  melalui  kampanye-kampanye atau  seminar. Rumah Cemara  juga  memiliki sebuah  klinik keliling yang menyediakan layanan kesehatan dasar, bagi  masyarakat  kurang  mampu  atau  di daerah-daerah terpencil.
Pada intinya, Rumah  Cemara terus  berupaya untuk  eksis  di tengah  masyarakat, dengan nilai-nilai kebaikan   yang mereka  edarkan,  hingga tercipta  hubungan sosial yang baik  antara  orang  dengan  HIV/AIDS, mantan pecandu, dan masyarakat.
Dan satu  hal  yang mereka lalukan  untuk  benar-benar  mewujudkan  penghapusan  diskriminasi  itu  adalah  dengan bermain sepak bola.  Ya, melalui olahraga yang dianggap merakyat  ini,  Rumah  Cemara   yakin  bahwa  mereka bisa menciptakan  hubungan yang baik  dengan masyarakat  umum.
Konsep  untuk menjadikan bola  sebagai  media komunikasi  antara  penyandang  HIV/AIDS, mantan pecandu  dengan masyarakat  ini  telah mereka tuangkan dalam sebuah  ide  tertulis  yang  kemudian meraih prestasi sebagai   juara  Dunia  dalam  kompetisi  NIKE-ASHOKA Change Makers. Konsep  mereka  yang  bertema: “changing lives trough football” mengalahkan  hampir  300  aplikasi konsep lain  dari 60 negara di  dunia.
Tak hanya di atas kertas, Tim sepak   bola  Rumah  Cemara  juga memiliki  banyak   prestasi  di  bidang  sepak bola.  Meski  awalnya   memilih  sepakbola  untuk  meningkatkan kualitas  hidup  para penyandang  HIV/AIDS  dan  mantan pecandu Napza, tapi  Rumah Cemara  kemudian bisa menjuarai kompetisi  sepakbola BNN Cup  tingkat nasional  di tahun 2009 dan  2010.
Tahun 2010, Rumah Cemara ditunjuk untuk mengorganisir sekaligus  mewakili indonesia untuk berpartisipasi pada sebuah turnamen yang sarat makna pemberdayaan sosial yakni “Homeless World Cup di Rio de Janeiro, Brazil,  namun karena masalah  dana, mereka gagal mengikuti turnamen tersebut.
Tahun  2011  ini  mereka kembali  di undang, di kompetisi  Homeless  World Cup di Paris, Perancis,  namun  seperti tahun sebelumnya, mereka mengaku  masih memiliki hambatan dalam soal  dana.  Namun mereka tak putus  asa, untuk terus menggalang  dana melalui banyak  acara.
Inilah  kisah-kisah inspiratif di Kick  Andy  Hope  kali ini,  semoga  bisa menjadi  cermin  bagi  kita  untuk  belajar  memaknai  hidup tanpa kata  putus asa.  Selamat menyaksikan.

Sumber By :Kickandy.com





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.