Selasa, 23 Agustus 2011

China Marah, Korea Ambil Budayanya

Cantik dan bening-bening, pastilah demikian aktor-aktris dalam drama Korea Selatan. Menggemaskan. Tak cuma itu, cerita drama Korea juga cocok dengan selera cewek-cewek (cowok juga banyak lho) Indonesia. Sedikit mellow gitulah, cinta yang mengharu biru. Tak kalah menarik juga ada cerita intrik kerajaan zaman dulu. Dibandingkan miniseri Hollywood, drama Korea di Indonesia ternyata lebih banyak penggemar fanatiknya. Ini antara lain karena kedekatan kultur.
Banyak permintaan dari pembaca Kompas MuDA untuk membahas drama Korea. Untuk melacak fenomena drama Korea, Kompas MuDA atas undangan Korean Foundation for International Culture Exchange (KOFICE) menelusuri hingga ke negara pembuatnya, plus melihat studio pembuatan drama dari televisi MBC (Munhwa Broadcasting Corporation).
Drama di Korea tak sekadar industri pembuatan sinema semata. Lebih dari itu, drama Korea tak bisa dilepaskan dari kebangkitan ekonomi serta budaya Korea.
"Korean Wave"
"Korean Wave" atau Hallyu, begitu istilah untuk menandai fenomena kebangkitan budaya populer Korea yang tiba-tiba menginvasi penjuru Asia, seperti China, Jepang, Malaysia, Vietnam, Filipina, Thailand, juga Indonesia.
Korean Wave ditandai dengan dikenal luasnya grup musik, fashion, dan drama yang semuanya khas Korea, hasil kolaborasi budaya modern dan tradisional. Budaya populer dibalut tradisionalisme Korea diangkat serius layaknya sebuah industri.
Maka tak heran jika selanjutnya Korea mengenal terminologi unik: Cultural industry. Cultural dan industry merupakan dunia berbeda, namun dengan penuh kesadaran Korea menyatukannya. Inilah yang menjadi pemicu Korean Wave dan kemudian menjadi daya tarik turis datang ke Negeri Ginseng itu.
Tur bersama KOFICE bisa menunjukkan seperti apa industri kultur bekerja. "Semua orang Korea suka menonton drama," kata Song Weon-geun, Direktur Hubungan Internasional MBC.
MBC adalah televisi publik yang banyak memproduksi drama terkenal, seperti Daejanggeum (Jewel in the Palace), Jumong, Damo, Heojun, My Lovely Sam-soon, Couple of Trouble, Sweet Spy, Air City, The First Shop Of Coffee Prince, dan Tae Wang Sa Sing Gi.
Semua televisi di Korea berlomba-lomba membuat drama dengan standar selera global Asia. Karena itu, kompetisi sangat ketat dan siapa yang sekadar menjiplak drama dari luar akan langsung kelihatan.
"Kami tiap tahun memproduksi 900 jam drama dengan jumlah judul bervariasi setiap tahun," ujar Weon-geun. Tak semua drama dibuat sendiri oleh MBC. "Hanya 40 persen yang kami buat sendiri, 60 persen beli dari perusahaan luar," katanya.
Untuk menentukan drama itu layak atau tidak, MBC memiliki tim tersendiri. "Intinya dalam membeli drama adalah bagaimana memilih cerita. Kita harus punya perspektif, cerita seperti apa yang akan meledak di pasaran dan bisa diterima penonton. Juga harus ada garansi kepuasan penonton nantinya. Karena itu, kalau ada cerita yang bagus, pasti langsung kami ambil," tambah Weon-geun.
China "marah"
Korean Wave juga berdampak pada sektor ekonomi dan politik luar negeri. Para pembuat film di MBC menuturkan, China sempat marah karena menganggap drama Korea telah mencuri sebagian budaya China dan Asia.
Mulai dari budaya pakaian, pengobatan tradisional, hingga makanan sekarang di kancah Asia mulai didominasi Korea. Padahal, akar budaya Korea adalah dari China juga.
"Budaya Korea akhirnya superior di kancah budaya Asia, dan sebaliknya, budaya China terkesan inferior, itu yang mereka protes," cerita Song Weon-geun.
Karena itu, untuk menandingi Korea dan merebut supremasi budaya, China akan serius mengembangkan drama. Tampaknya, "perang" budaya akan semakin sengit.
Produsen elektronik dan mobil Jepang juga khawatir pada pengaruh Korean Wave. Pengaruh budaya Korea di penjuru Asia ternyata berdampak pada penjualan produk elektronik dan mobil.
Berkibarnya budaya Korea ternyata berimbas pada pencitraan positif terhadap brand produk elektronik dan mobil Korea. Orang sekarang aware dengan produk Korea dan secara perlahan pangsa pasar Jepang mulai digerogoti.
Kebangkitan drama Korea merupakan buah dari demokratisasi yang dimulai akhir 1980. Sejak rezim otoriter Korea tak berkuasa, ada kemerdekaan yang membuat film atau drama tanpa terkungkung kreativitasnya.
Walaupun Korea masih terpecah antara Korea Selatan dan Korea Utara, pemerintah tak menekan media untuk menjadi agen propaganda. Tingkat independensi media massa tercatat menduduki urutan ke-21 dunia.
"Hongkong bertanya-tanya, ada apa dalam 10 tahun terakhir kok drama Korea jadi bagus? Padahal, 10 tahun sebelumnya Korea pergi ke Hongkong untuk belajar membuat film," tutur Weon-geun.
Korea Selatan yang pada 1950-an termasuk negara termiskin di Asia, kini menjadi 10 negara terkuat ekonominya di dunia, nomor sembilan di dunia dalam pangsa pasar film, dan menjadi negara paling besar belanjanya untuk pertunjukan dan film.
Aktor Korea disebut-sebut paling mahal bayarannya setelah Hollywood. Bintang dalam drama Winter Sonata dan drama terbaru Tae Wang Sa Shin Gi, Bae Yong- joon, saja bisa mengantongi 5 juta dollar AS per film.
Jadi, kalau Korea Selatan yang masih suasana perang dengan Korea Utara saja bisa membuat drama yang mampu mendukung perekonomian, bagaimana dengan Indonesia? Apa kabar sinetron Indonesia? Adakah masih obral rok mini anak sekolah dan tampar-tamparan dibandingkan kekuatan cerita? (AMIR SODIKIN)

Sumber By : Kompas.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.