Rabu, 24 Agustus 2011

7 Keajaiban Seorang Buruh Bangunan


Kelurga Cak Hanif, sederhana dan jauh sifat narsis atau ujub-- baca Belajar Arif Dari Cak Hanif (1 ), Vox Populi Vox Dei, edisi Rabu (3/7) patut menjadi cermin bangsa ini. Inilah 7 ‘keajaiban’ rekam jejak uswah Cak Hanif untuk dijadikan marwah positif.
Disiplin Jamaah. Rumah Cak Hanif sekitar 2 Km dari masjid. Cukup jauh bagi manusia zaman sekarang untuk bersedia salat berjamaah di masjid. Namun Cak Hanif melakukannya dengan riang tanpa beban. Pekerjaannya sebagai buruh bangunan tidak menghalanginya untuk memanfaatkan jeda siang untuk salat  dhuhur di masjid. Selepas bekerja saat biasanya orang memilih melepas penat dan abai terhadap kewajiban salat, Cak Hanif tetap dengan penuh semangat membimbing keluarga berangkat ke masjid untuk salat jamaah, demi pahala dan tingkatan 27 derajat. Bandingkan dengan diri kita yang sering hanya karena rapat, jangankan berjamaah, jeda untuk mendengarkan adzanpun tak sempat.
Teguh berprinsip. Meski sudah berkeluarga usia Cak Hanif masih tergolong muda, 30 tahun. Di desanya banyak pria seusia dia gemar nongkrong di warung atau pinggir jalan, tapi terhadap salat sering abai.
Namun, Cak Hanif beda, setiap hari di dengan tegar lewat di depan mereka untuk pergi ke masjid, meski sering diteriaki: lebay. Dia membalas hinaan dengan senyum penuh keikhlasan. Di tengah budaya dan paham permisivisme yang pekat, keteguhannya memegang prinsip layak dijadikan kaca bagi kita yang begitu mudah melepas sendi-sendi syariat hanya demi kepentingan sesaat.
Haus ilmu dan amal. Di masjid rutin diadakan pengajian dua kali seminggu, Jumat dan Minggu. Secara aktif Cak Hanif menyisihkan waktunya untuk mengikuti pengajian itu. Dia benar-benar konsisten memberikan slot khusus di sela kesibukan aktifitasnya: menimba ilmu.
Bahkan untuk seminar dan workshop tentang teknologi dan menajemen yang sering diadakan yang jelas-jelas tidak ada hubungan dengan pekerjaannya sebagai buruh bangunan, dia tetap memohon diizinkan ikut, meski hanya jadi pendengar. Di setiap pembangunan fasilitas umum, nyaris tak pernah absen ikut urun. Terhadap ilmu dia haus, terhadap amal dia tulus.
Pelaksana tubuh agama. Dalam surat At Taubah ayat 111 disebutkan ciri orang beriman adalah jiwa raganya dibeli oleh Allah. Kata ‘dibeli’ mengandung makna bahwa orang beriman sudah tidak lagi mempunyai rasa ‘kepemilikan’atas diri, harta dan hidupnya. Semuanya menjadi milik Allah, milik agama. Konsep mana yang disebut sebagai ‘tubuh agama’. Seseorang yang sudah menjadi tubuh agama, maka kapanpun kepentingan agama dan umat – sebagai cermin kepentingan Allah – membutuhkan, siap memberi layanan. Kebutuhan agama disahuti sebagai kebutuhannya, tapi tidak sebaliknya. Sense of belonging terhadap kebutuhan agama dan warga desa begitu kuat. Dia begitu all out memberikan apapun yang dia punya untuk kepentingan agama dan warga desa. Namun untuk kebutuhan pribadinya, begitu kukuh dia menutupi agar terhindar dari sifat mengemis dan minta dikasihani .
Kompak suami isteri. Seolah menampar halus muka kehidupan kita, ketika banyak orang masih berwacana tentang kebaikan, Cak Hanif telah berhasil mengajak istrinya, mbak Pur, untuk berlomba dalam kebaikan. Perintah Allah pada Qs. 5:48 untuk fastabiqul khoiroot diamal-teladankan dengan menampilkan orchestra kebajikan yang kompak nan rancak.
Biasanya, saat Cak Hanif menyumbangkan tenaganya untuk ikut dalam pembangunan fasilitas publik, maka mbak Pur men-donasikan penganan untuk para pekerja. Kala suami kebagian seksi keamanan dalam sebuah kepanitiaan hari keagamaan, maka si istri sibuk di seksi konsumsi. Sebuah diorama agung tentang kehidupan keluarga kecil yang mempraktikkan Islam ber-adilihung.
Semangat dakwah. Mayoritas penduduk desa kami muslim. Toh demikian tidak semua menjalankan ajaran agamanya dengan alim. Cak Hanif dan istri bukanlah ahli agama, karena sekolah hanya sampai SMP saja. Namun itu tidak membatasinya untuk berkiprah dalam derap dakwah menyadarkan umat yang beragama secara salah kaprah.
Keterbatasan ilmu agama dia tembus dengan semangat sabda Nabi saw: ballighuu anni walau ayah/sampaikan ajaran dariku walaupun hanya satu ayat. Minimnya teori strategi dakwah disiasati dengan trik sederhana: dekati dengan hati, beri mereka bukti. Saat mendengar ada tetangga yang sakit, Mbak Pur berusaha menjadi yang pertama datang menjenguk. Sambil memijat, dia mendakwahkan salat.
Sering tanpa diminta, Cak Hanif dan mbak Pur berkeliling ke tetangganya untuk melihat kondisi dapur mereka. Untuk mereka yang miskin, dengan gegas mereka membantu lauk dan beras. Dalam obrolan ringan, jika sempat dia sisipkan satu dua ayat tentang akhirat dan keniscayaan hidup berkelanjutan.
Tertanam dunia akhirat. Konsep tentang kehidupan setelah mati, sering hanya dianggap jargon kitab suci tanpa bukti. Namun Cak Hanif berbeda. Dia dan keluarga benar-benar memahami konsep tersebut dalam cycle Planning, Action, Organizing dan Controling. Perencanaan akan kehidupan dunia dan akhirat benar-benar dilaksanakan, dikelola dan dikontrol dengan haqqul yaqin.
Cak Hanif bukan ustadz ataupun kiai, tapi dia mempraktekkan agama dengan aksi. Dia juga bukan usahawan yang menunggu kaya untuk jadi dermawan, tapi sanggup membantu meski dalam keterbatasan. Buat dia tidak perlu menjadi pejabat untuk menolong rakyat, cukup dengan arif mengimplementasikan konsep dunia akhirat. Saya pun berseru lirih pada diri sendiri yang naif, ayo belajar menjalani hidup dengan arif. Mari belajar arif dari Cak Hanif. Bismillah.

Sumber By Surabayapost

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.