Jumat, 03 Juni 2011

The History Road to thomas & uber cup 2012

Sumbangan Mantan Petenis dan Pecatur

istimewa
Tunggal pertama China, Lin Dan, mencium Piala Thomas yang diraih China pada tahun 2006 setelah di final mengalahkan Denmark 3-0.
PIALA Thomas merupakan turnamen paling bergengsi di ajang bulu tangkis beregu putra. Penghargaan ini berawal dari inisiatif Sir George Alan Thomas yang menyumbang piala tersebut untuk kejuaraan bulu tangkis internasional beregu putra.
Sebenarnya, Sir George Alan Thomas adalah seorang petenis dan pecatur. Namun, dia mengubah haluan untuk terjun ke dunia bulutangkis.
Setelah "bosan" menekuni dua olahraga tersebut, Thomas pindah haluan ke olahraga tepok bulu. Dia menjadi pebulu tangkis tersukses di All England Open Badminton Championships dengan 21 gelar pada rentang waktu 1906-1928.
Dari total jumlah itu, empat titel didapatkan pada tunggal putra, sembilan dari ganda putra, dan delapan di antaranya ia dapatkan pada ganda campuran. Thomas juga merupakan presiden pertama di IBF (International Badminton Federation).
Setelah gantung raket, Thomas ingin memberikan sesuatu yang lebih berarti bagi dunia bulu tangkis. Karena itu, dia memprakarsai dimulainya Piala Thomas pada tahun 1949. Turnamen ini menjadi sebuah kompetisi kejuaraan tim putra yang diperebutkan atlet dunia--mirip dengan Piala Davis di tenis.
Awalnya, Piala Thomas diperebutkan setiap tiga tahun sekali. Akan tetapi, sejak tahun 1982, kejuaraan internasional beregu putra itu diselenggarakan setiap dua tahun.
Piala yang diperebutkan di ajang ini dibuat oleh pengrajin perak bernama Atkin Bros yang hidup di London. Piala setinggi 28 inci itu terdiri dari pilar, mangkuk, dan penutup mangkuk. Di atas penutup mangkuk terdapat model pemain bulu tangkis. Di balik mangkuk dan pilarnya, terdapat nama pemenang.
Dari tahun 1949 hingga 2008, Indonesia tercatat telah merebut Piala Thomas sebanyak 13 kali (1958, 1961, 1964, 1970, 1973, 1976, 1979, 1984, 1994, 1996, 1998, 2000, 2002). Pada tahun 1994, Piala Uber dan Thomas berhasil dikawinkan Indonesia.
Tahun 2008, Indonesia yang menjadi tuan rumah gagal mewujudkan impiannya untuk membawa pulang piala tersebut. Perjuangan pasukan Merah Putih di hadapan publiknya tak berbuah manis, karena langkahnya terjegal di semifinal setelah menyerah dari Korea Selatan. Tahun tersebut, China lagi-lagi menunjukkan superioritasnya dengan kembali membawa pulang trofi itu ke negaranya setelah menaklukkan Korsel di final.
Nah, tahun 2010 ini Indonesia kembali mengais asa untuk mengakhiri paceklik gelar yang melanda Tanah Air sejak 2002. Meskipun sulit, tetapi "Pasukan Garuda" tetap punya peluang untuk mengakhiri dominasi China, yang tetap jadi favorit untuk memenangkan Piala Thomas 2010 di Kuala Lumpur, Malaysia. Semoga!
UBER CUP
Muncul Karena "Cemburu" Kepada Piala Thomas

istimewa
Andalan China di nomor tunggal putri, Xie Xingfang (kiri) dan Zhang Ning, memegang Piala Uber yang diraih China pada tahun 2006 setelah di final menaklukkan Belanda 3-0.
JIKA putra punya kejuaraan bulu tangkis beregu yang namanya Piala Thomas, maka di sektor putri juga ada turnamen bergengsi yang disebut Piala Uber. Ide untuk mengadakan turnamen tersebut muncul karena mereka (putri) "cemburu" dengan apa yang sudah terjadi pada sektor putra.
Adalah Betty Uber yang menjadi pemrakarsa munculnya kejuaraan beregu putri ini setelah mereka lama hanya jadi penonton setia. Betty, pebulu tangkis wanita asal Inggris, yang mendonasikan trofi tersebut, untuk diperebutkan para pemain wanita.
Seperti halnya Piala Thomas, awalnya Piala Uber juga diadakan setiap tiga tahun sekali. Tetapi sejak tahun 1984, turnamen tersebut diadakan setiap dua tahun sekali dan diselenggarakan bersamaan dengan Piala Thomas (waktu dan tempatnya), yang dimulai lebih awal pada tahun 1949.
Hingga saat ini, Piala Uber sudah diperebutkan sebanyak 21 kali. Namun dari perjalanan tersebut, hanya empat negara yang mendominasi dan pernah menjadi juara, yakni China, Amerika Serikat, Jepang dan Indonesia.
China yang paling sering menjadi juara. Tim "Negeri Tirai Bambu" itu sudah 11 kali menggenggam trofi tersebut (1984, 1986, 1988, 1990, 1992, 1998, 2000, 2002, 2004, 2006, 2008), bahkan dalam enam perhelatan terakhir mereka tidak bisa ditandingi oleh negara mana pun.
Bagaimana dengan Indonesia? Prestasi para srikandi Tanah Air di ajang ini tak seperti di Piala Thomas. Putri-putri Indonesia baru tiga kali menjadi juara, yakni pada tahun 1975/76, 1994 dan 1996--bandingkan dengan Piala Thomas di mana Indonesia sudah 13 kali menjadi juara.
Dua tahun lalu ketika Piala Uber dihelat di Tanah Air, Indonesia sempat menguak harapan untuk merampasnya dari genggaman China karena berhasil menembus final. Sayang, perjuangan keras plus dukungan suporter fanatik yang memadati Istora Senayan, Jakarta, tak mampu menembus dan meruntuhkan tembok China, yang kembali menjadi juara.
Pada Piala Uber 2010 di Malaysia, tim putri Indonesia tampaknya masih sulit untuk mengulangi tiga prestasi terbaik ketika menjadi juara. Selain China yang memang kembali jadi favorit juara, masih ada negara-negara lain yang cukup tangguh di sektor putri, seperti Jepang, Malaysia, Korea Selatan dan Denmark. Karena itu, keberhasilan menembus final saja, mungkin sudah menjadi sebuah prestasi besar yang patut diapresiasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.