Jati Diri Jawa Pos, Jumat (30/3/07), berpendapat bahwa salah satu masalah krusial yang menyangkut kedaulatan RI adalah soal perbatasan dengan negara tetangga, khususnya Malaysia. Ketidakpedulian kita merawat Pulau Sipadan dan Ligitan yang divonis Mahkamah Internasional (MI) menjadi milik Malaysia pada 2004 harus menjadi "guru" yang menyadarkan para pemimpin nasional.Karena itu, hentikan saja niat interpelasi anggota DPR kepada pemerintah lantaran pemerintah mendukung DK PBB yang akan memberikan sanksi kepada Iran tentang program nuklirnya. Lebih baik energi dan kepedulian wakil-wakil rakyat diberikan kepada masalah-masalah domestik seperti ancaman pencaplokan wilayah perbatasan RI oleh negara tetangga.Pendapat Jawa Pos itu menjadi relevan lagi karena saat ini memang ada indikasi pencaplokan sebagian daerah perbatasan di Kalimantan Timur (Kaltim) oleh Malaysia. Sekitar 1,5 kilometer perbatasan Kaltim, khususnya di Kutai Barat yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia, terindikasi telah dicaplok menjadi wilayah Malaysia.Itu benar-benar preseden buruk yang memalukan. Lagi-lagi, masalahnya muncul karena kita kurang peduli dan kurang serius menjaga serta merawat daerah perbatasan. Sama dengan ketika kita kehilangan Sipadan dan Ligitan.Kasus-kasus seperti itu tidak lagi hanya menyalahkan negara lain. Tidak bisa hanya menyalahkan Malaysia. Kita harus bertanggung jawab atas daerah tumpah darah bangsa dan tanah air RI. Belum jelas benar, bagaimana dan mengapa Malaysia sampai bisa mencaplok wilayah perbatasan RI di Kaltim sampai sejauh 1,5 kilometer. Tetapi, tampaknya, Malaysia tidak bisa dituduh sebagai pihak yang ekspansionis.Sangat mungkin kita sendiri yang tidak telaten, tidak teliti, dan lengah dalam menjaga tanah air bangsa Indonesia di daerah perbatasan. Misalnya, lengah menjaga rambu-rambu tapal batas. Membiarkan tanda atau rambu-rambu rusak atau hilang, sehingga Malaysia bebas menentukan wilayahnya menurut versi pemerintahnya. Kalaupun Malaysia terbukti bersalah -memang mencaplok sebagian wilayah Kaltim-, kita juga ikut bertanggung jawab. Mengapa? Sebab, kita membiarkan Malaysia sampai bisa mencaplok wilayah perbatasan.Berarti, aparat penjaga perbatasan kecolongan. Mereka tidak tangkas menjalankan tugas, sehingga Malaysia sampai bisa mencaplok perbatasan RI.Karena itu, wakil-wakil rakyat di parlemen harus segera datang dan melihat sendiri daerah perbatasan di Kutai Timur yang dicaplok Malaysia. Anggota DPR harus bisa membuktikan apa sebenarnya yang terjadi di daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia tersebut.Mereka perlu segera membuat rekomendasi apa yang seharusnya segera dilakukan pemerintah RI untuk merebut kembali wilayah perbatasan yang dicaplok Malaysia itu. Menata wilayah perbatasan, merawat, dan menjaganya jauh lebih penting daripada ramai-ramai mempersoalkan dukungan RI kepada DK PBB untuk memberikan sanksi untuk Iran tentang program nuklirnya.Sinyalemen Jawa Pos diatas, rupanya menggelitik perasaan bangsa Indonesia. Mungkinkah kita memiliki rasa bernegara yang pantang dijajah oleh siapapun sebahagian atau secara menyeluruh ?. Persaan itu rupanya paling optimal cuma saat Republik Indonesia baru Merdeka, kira-kira pada bulan September 1945. Foto diatas menggambarkan. Dimana-mana ada coretan yang menentang invasi kekuatan asing. Pada Trem Jatinegara-Kota ini tertulis kata-kata "Better to the Hell than tobe Clonize again" Mungkin kita perlu meniru Jati Diri Bangsa Indonesia saat itu.
Selasa, 03 April 2007
Wilayah RI Dicaplok Malaysia ?
Jati Diri Jawa Pos, Jumat (30/3/07), berpendapat bahwa salah satu masalah krusial yang menyangkut kedaulatan RI adalah soal perbatasan dengan negara tetangga, khususnya Malaysia. Ketidakpedulian kita merawat Pulau Sipadan dan Ligitan yang divonis Mahkamah Internasional (MI) menjadi milik Malaysia pada 2004 harus menjadi "guru" yang menyadarkan para pemimpin nasional.Karena itu, hentikan saja niat interpelasi anggota DPR kepada pemerintah lantaran pemerintah mendukung DK PBB yang akan memberikan sanksi kepada Iran tentang program nuklirnya. Lebih baik energi dan kepedulian wakil-wakil rakyat diberikan kepada masalah-masalah domestik seperti ancaman pencaplokan wilayah perbatasan RI oleh negara tetangga.Pendapat Jawa Pos itu menjadi relevan lagi karena saat ini memang ada indikasi pencaplokan sebagian daerah perbatasan di Kalimantan Timur (Kaltim) oleh Malaysia. Sekitar 1,5 kilometer perbatasan Kaltim, khususnya di Kutai Barat yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia, terindikasi telah dicaplok menjadi wilayah Malaysia.Itu benar-benar preseden buruk yang memalukan. Lagi-lagi, masalahnya muncul karena kita kurang peduli dan kurang serius menjaga serta merawat daerah perbatasan. Sama dengan ketika kita kehilangan Sipadan dan Ligitan.Kasus-kasus seperti itu tidak lagi hanya menyalahkan negara lain. Tidak bisa hanya menyalahkan Malaysia. Kita harus bertanggung jawab atas daerah tumpah darah bangsa dan tanah air RI. Belum jelas benar, bagaimana dan mengapa Malaysia sampai bisa mencaplok wilayah perbatasan RI di Kaltim sampai sejauh 1,5 kilometer. Tetapi, tampaknya, Malaysia tidak bisa dituduh sebagai pihak yang ekspansionis.Sangat mungkin kita sendiri yang tidak telaten, tidak teliti, dan lengah dalam menjaga tanah air bangsa Indonesia di daerah perbatasan. Misalnya, lengah menjaga rambu-rambu tapal batas. Membiarkan tanda atau rambu-rambu rusak atau hilang, sehingga Malaysia bebas menentukan wilayahnya menurut versi pemerintahnya. Kalaupun Malaysia terbukti bersalah -memang mencaplok sebagian wilayah Kaltim-, kita juga ikut bertanggung jawab. Mengapa? Sebab, kita membiarkan Malaysia sampai bisa mencaplok wilayah perbatasan.Berarti, aparat penjaga perbatasan kecolongan. Mereka tidak tangkas menjalankan tugas, sehingga Malaysia sampai bisa mencaplok perbatasan RI.Karena itu, wakil-wakil rakyat di parlemen harus segera datang dan melihat sendiri daerah perbatasan di Kutai Timur yang dicaplok Malaysia. Anggota DPR harus bisa membuktikan apa sebenarnya yang terjadi di daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia tersebut.Mereka perlu segera membuat rekomendasi apa yang seharusnya segera dilakukan pemerintah RI untuk merebut kembali wilayah perbatasan yang dicaplok Malaysia itu. Menata wilayah perbatasan, merawat, dan menjaganya jauh lebih penting daripada ramai-ramai mempersoalkan dukungan RI kepada DK PBB untuk memberikan sanksi untuk Iran tentang program nuklirnya.Sinyalemen Jawa Pos diatas, rupanya menggelitik perasaan bangsa Indonesia. Mungkinkah kita memiliki rasa bernegara yang pantang dijajah oleh siapapun sebahagian atau secara menyeluruh ?. Persaan itu rupanya paling optimal cuma saat Republik Indonesia baru Merdeka, kira-kira pada bulan September 1945. Foto diatas menggambarkan. Dimana-mana ada coretan yang menentang invasi kekuatan asing. Pada Trem Jatinegara-Kota ini tertulis kata-kata "Better to the Hell than tobe Clonize again" Mungkin kita perlu meniru Jati Diri Bangsa Indonesia saat itu.
Sabtu, 31 Maret 2007
25 Maret 1947, 60 th yang lalu dokumen Linggajati ditanda tangani
Senin, 26 Maret 2007
Ibu Nelly Adam Malik telah tiada

Ibu Nelly Adam Malik telah tiada. Istri Wakil Presiden Republik Indonesia ketiga, Ny Nelly Adam Malik, Minggu (25/3) pukul 22.20, meninggal dunia di Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta Selatan. Ny Nelly sempat dirawat di RS MMC sejak Jumat (23/3) akibat serangan stroke. Sejak Senin pagi hari, rumah duka di Jalan Diponegoro 29, Jakarta Pusat, dibanjiri pelayat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden M Jusuf Kalla hadir di rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir. Hadir pula antara lain Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, mantan Presiden BJ Habibie, dan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Ny Nelly Adam Malik lahir di Jakarta, 15 Mei 1925, putri kedua Datuk Ilyas Gelar Rajo Mara dan Siti Zuleiha. Ia meninggalkan seorang anak laki-laki, Otto Malik, dua anak perempuan, Antarini Malik dan Budisita Malik, serta 17 cucu. Ny Nelly dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara militer yang dipimpin Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah. Bachtiar mengungkapkan, Nelly Adam Malik dikenal sebagai sosok yang memegang teguh prinsip dan setia kepada negara. Bersama Adam Malik, dia turut mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaannya. Menurut Antarini Malik, sejak masuk RS kondisi kesehatan almarhumah terus menurun akibat lanjut usia. Ia pun menderita penurunan fungsi otot jantung. "Ibu sudah lama tak aktif di berbagai kegiatan sosial," katanya. Sejumlah organisasi sosial pernah dirintis Ny Nelly bersama sejumlah istri pejabat lainnya. Pemegang penghargaan Bintang Mahaputra itu pernah menjadi Ketua Dewan Kerajinan Nasional pada 1980-1983. Ia juga ikut mendirikan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia bersama Ny Tien Soeharto pada 1979. Selain itu, Ny Nelly pernah menjadi anggota DPR pada 1971-1978 dan menjadi Ketua Yayasan Adam Malik yang mengelola Museum Adam Malik. Menurut Otto Malik, ibundanya setia mendampingi ayahnya, Adam Malik, pada 1942-1984, dalam suka dan duka. Dari Berita Kompas 27 Maret 2007
Sabtu, 10 Maret 2007
Prof.Koesnadi telah tiada

Dalam peristiwa kecelakaan terbakarnya pesawat Garuda GA 200 di lapangan terbang Adisucipto Yogyakarta tanggal 7 Maret 2007 jam 7.00 pagi, telah meninggal dunia, teman baik saya Prof Dr Koesnadi Hardjasoemantri. Beliau lahir tanggal 9 Desember 1926 di Manon Jaya Tasikmalaya, jadi pada bulan Desember tahun kemarin, beliau baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 80. Dizaman Jepang dan awal Revolusi, beliau menamatkan Sekolah Lanjutan Atasnya yang bernama SMT (Sekolah Menengah Tinggi) bertempat dibekas gedung Kanisius. Tahun 50-an, ikut kuliah di Universitas Gajah Mada, Fakultas Hukum dan berhasil lulus pada tahun 1964. Predikat Doktor dibidang Sosiologi didapat dari Rijks Universiteit Leiden, ilmu lingkungan dari IPB dan UNPAD. Sejumlah jabatan pernah diembannya. Mulai sebagai dosen UGM sampai menjabat Rektor. Juga pernah menjabat Direktur Pendidikan Tinggi Dep.Dik.Bud, atase kebudayaan pada kedutaan Besar Indonesia di Den Haag Belanda, Sekretaris menteri Negara Lingkungan Hidup. Sampai akhir hayatnya beliau tetap mengajar diberbagai Universitas di Yogyakarta maupun di Jakarta. Itulah sebabnya naik pesawat terbang Jakarta-Yogyakarta bagaikan bagian dari kehidupan mingguannya.
Rasanya masih seperti bertemu kemarin, padahal pertemuannya saya dengan beliau yang terahir, terjadi pada acara Seminar di Hotel Milenium tahun 2006. Saat itu beliau menyampaikan makalahnya soal PTM (Pengerahan Tenaga Mahasiswa) pada tahun 50-an. Dimana saat itu Pemerintah belum dapat mencukupi tenaga guru SMA. Maka atas usaha Pak Kusnadi dan beberapa Mahasiswa UGM, diberangkatkanlah sejumlah mahasiswa ke seluruh Indonesia sebagai pengajar diluar Jawa. pak Kusnadi sendiri ikut mengajar di SMA di Kupang, NTT. Tidak banyak yang tahu bahwa, Pak Kusnadi adalah anggota PT.TKR (Polisi Tentara Keaman rakyat) pada zaman Revolusi, dengan pangkat letnan. Wilayah penugasannya adalah Sukabumi-Cianjur. Pada suatu hari, beliau ditugaskan Let.Kol Alex Kawilarang untuk mengantar 2 karung emas permata hasi rampasan Jepang yang sempat dikuburkan di kebun karet. Maka setelah harta itu disita pihak TKR, kepada Pak Kusnadi dan seorang temannya diperintahkan untuk diantarkan kepada Kementerian Keuangan di Yogyakarta. Namun ketika tiba di Yogya, kembali dua karung barang berharga itu harus dibawa ke Purworejo, tempat kementerian itu berada. Selama Revolusi, Pak kusnadi bergabung dengan TP (Tentara Pelajar) Yogya. Diantara teman-temannya adalah Radius Prawiro dan Nugroho Notosutanto. Setelah tahun 1948, beliau ditugaskan di Wherkreise didaerah Pekalongan - Tegal - Brebes. Pada suatu hari terjadi serangan Belanda secara mendadak. Pak Kusnadi berlari lewat pintu belakang, tapi sungguh kaget karena disitu sudah muncul sejumlah tentara Belanda. Maka dia berbalik arah untu melarikan diri kearah lain. Sungguh sangat ajaib, hanya berjarak 5 meter, tapi si Belanda tidak menembaknya. Salah satu kemungkian karena melihat tubuhnya yang kecil yang menggunakan celana pendek sehingga dikira anak kecil. Padahal sebagai perwira, Pak Kusnadi pernah diminta untuk menjabat Camat, menggantikan Camat lama yang didaulat rakyat. Pak Kusnadi adalah anggota Veteran yang mendapat "Bintang Gerilya" karena jasanya dalam perjuangan Perang kemerdekaan. Selamat jalan Prof...Jasamu tidak akan kami lupakan.
Langganan:
Postingan (Atom)