Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juni 2011

11 Orang Sukses Tanpa Mengandalkan Ijasah Formal ! Patut Di Contoh

1. Andi F. Noya
PimRed Metro TV ini belum lulus sarjana… Satu hal yang menarik, Andy sebenarnya adalah orang teknik. Sejak lulus SD Sang Timur di Malang, Jawa Timur, pria kelahiran Surabaya ini sekolah di Sekolah Teknik Jayapura lalu melanjutkan ke STM Jayapura. “Tetapi sejak kecil saya merasa jatuh cinta pada dunia tulis menulis. Kemampuan menggambar kartun dan karikatur semakin membuat saya memilih dunia tulis menulis sebagai jalan hidup saya,” tutur Andy. 


2. Adam Malik

Ternyata orang yg dikabarkan Agen CIA ini ternyata gak pernah ngenyam bangku sekolah.


3. M.H.Ainun Najib
Emha Ainun Nadjib hanya tiga bulan kuliah, Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya dia pernah ‘diusir’ dari Pondok Modern Gontor Ponorogo karena melakukan ‘demo’ melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya, kemudian pindah ke Yogya dan tamat SMA Muhammadiyah I. Selebihnya Beliau jadi pengembara ilmu di luar sekolah hingga dia bisa jadi manusia dengan bermacam sebutan (multifungsi).


4. Abdullah Gymnastiar

kiayi yang kmarin2 ini santer dengan kasus poligaminya,ternyata sukses menjadi kiayi dan wirausahawan (pengusah besar) tanpa ijazah. walaupun sudah lulus, tapi dikabarkan sampai saat ini blm mengambil ijazahnya.


5. Ajip Rosidi

dengan tak mau mengikuti ujian akhir SMA nya. Dia menolak ikut ujian karena waktu itu beredar kabar bocornya soal-soal ujian. Dia berkesimpulan bahwa banyak orang menggantungkan hidupnya kepada ijazah. “Saya tidak jadi ikut ujian, karena ingin membuktikan bisa hidup tanpa ijazah”. Dan itu dibuktikan dengan terus menulis, membaca dan menabung buku sampai ribuan jumlahnya. Walhasil sampai pensiun sebagai guru besar tamu di Jepang, Dia yang tidak punya ijazah SMA , pada usia 29 tahun diangkat sebagai dosen luar biasa Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Lalu jadi Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya, Ketua Ikapi Pusat, Ketua DKJ dan akhirnya pada usia 43 tahun menjadi profesor tamu di Jepang sampai pensiun.
Berikut Sejarah Pendidikan Beliau :
* Sekolah Rakyat 6 tahun di Jatiwangi (1950)
* Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta (1953)
* Taman Madya, Taman Siswa Jakarta (1956, tidak tamat) 


6. Bob Sadino
Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan. Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia dan tidak melanjutkan kuliah. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri. 

7. Andrie Wongso
Anak ke-2 dari 3 bersaudara ini terlahir dari sebuah keluarga miskin di kota Malang. Di usia 11 tahun (kelas 6 SD), terpaksa harus berhenti bersekolah karena sekolah mandarin tempat andrie kecil bersekolah ditutup. Maka SDTT, Sekolah Dasar Tidak Tamat, adalah gelar yang disandangnya saat ini. Masa kecil hingga remajanya pun kemudian dilalui dengan membantu orang tuanya membuat dan berkeliling berjualan kue ke toko-toko dan pasar. 


8. Purdi E Chandra
Sosok Purdi E. Chandra kini dikenal sebagai pengusaha yang sukses. Lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel) Primagama yang didirikannya bahkan masuk ke Museum Rekor Indonesia (MURI) lantaran memiliki 181 cabang di 96 kota besar di Indonesia dengan 100 ribu siswa tiap tahun.
Bukan suatu kebetulan jika pengusaha sukses identik dengan kenekatan mereka untuk berhenti sekolah atau kuliah. Seorang pengusaha sukses tidak ditentukan gelar sama sekali. Inilah yang dipercaya Purdi ketika baru membangun usahanya.
Kuliah di 4 jurusan yang berbeda, Psikologi, Elektro, Sastra Inggris dan Farmasi di Universitas Gajah Mada (UGM) dan IKIP Yogya membuktikan kecemerlangan otak Purdi. Hanya saja ia merasa tidak mendapatkan apa-apa dengan pola kuliah yang menurutnya membosankan. Ia yakin, gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal meraih cita-cita. Purdi muda yang penuh cita -cita dan idealisme ini pun nekad meninggalkan bangku kuliah dan mulai serius untuk berbisnis. Kini kabarnya Purdi E. Chandra sekarang sudah ada lebih dari 500 cabang Primagama di seluruh indonesia. 


9. Hendy Setiono
Hendy Setiono (kebab Baba Rafi) mengawali usaha tahun 2003 di Surabaya. Modalnya hanya Rp 10 juta atau sebuah gerobak burger. Kini bisnisnya berkembang pesat dengan menu makanan utama kebab serta santapan ala koboi (burger serta hotdog). Jumlah cabangnya setiap tahun terus bertambah. Terakhir, terdapat 140 outlet tersebar di 25 kota, antara lain Batam, Bali, Bandung, Banjarmasin, Malang, Gresik, Jember, Kediri, Lampung, Padang, Malang, Makasar, Medan, Pasuruan, Pekan Baru, Karawang, Surabaya, Sukabumi, Semarang, Sidoarjo, Tasikmalaya, Jogjakarta, dan Jakarta 


10. Buya Hamka
HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Ia adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara.
Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo. 


11. Houtman Zainal Arifin
beliau cuma lulusan SMA, awalnya bekerja sebagai Office Boy di Citi Bank Jakarta, tau-tau 19 taun kemudian beliau menjabat sebagai Vice President Citi Bank Indonesia



Sumber : http://mijennetwork.forumid.net

Kamis, 02 Juni 2011

Motivator hari ini @Waktu



Barusan, saya habis jalan-jalan dari Blognya kang Dadang, sudah dipastikan semua isi tulisan beliau merupakan tulisan-tulisan yang sangat inspiratis. Berikut ini saya ingin berbagi sebuah tulisan yang bersumber dari blog beliau. Selamat Membaca dan Actions. Semoga bermanfaat.

Mana yang lebih penting menurut pendapat Anda; Mengelola Waktu atau Mengelola Diri? Di sekolah-sekolah management terkemuka, Time Management dibahas dalam modul khusus. Tetapi, adakah kurikulum sekolah tingkat dunia yang memiliki modul Self Management? Hal ini menandakan jika kita lebih memperhatikan teknik-teknik Mengelola Waktu daripada Mengelola Diri. Itulah sebabnya mengapa meski sudah belajar banyak, kita tidak pernah berhenti mengeluhkan tentang waktu. Firman Tuhan menyatakan bahwa kualitas waktu seseorang sangat ditentukan oleh kualitas dirinya sendiri. Bukan sebaliknya. Meskipun seseorang memiliki waktu yang banyak, “Jika dia tidak beriman”, demikian firman Tuhan, “Maka manusia berada dalam kerugian”. Bahkan iman pun belum cukup. Jika dia tidak melakukan amal saleh, maka dia juga rugi. Artinya, bukan Mengelola Waktu yang paling menentukan hidup seseorang, melainkan ‘Mengelola Diri’. Hal ini berlaku di kantor, di rumah, dan dimana saja. Mengapa demikian? Inilah 5 faktor penentunya. 

1. Waktu Anda besifat netral, sedangkan diri Anda bersifat sentral. Tidak ada mahluk yang lebih adil daripada waktu. Jumlah waktu yang Anda dapatkan sama persis seperti yang orang lain dapatkan, bukan? Diri Andalah yang menjadi titik sentral paling menentukan apakah waktu Anda berharga atau sia-sia. Anda boleh berleha-leha, atau bekerja keras. Anda boleh mengerjakan aktivitas yang bermanfaat, atau berkutat dengan kesia-siaan. Tinggal Anda tentukan sendiri; apa yang menjadi prioritas utama dalam hidup Anda. Sekedar permainan dan senda gurau? Atau memupuk amal, perbuatan, dan kegiatan produktif yang memberi makna kepada hidup Anda?

2. Waktu Anda terbatas, sedangkan kapasitas diri Anda belum ketahuan batasnya. “Aku tak punya waktu!” begitu orang biasa mengeluhkan. Padahal semua orang juga tahu jika dia punya 24 jam sehari. Anehnya lagi; dia membuang-buang waktu yang terbatas itu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Tetapi, apakah Anda sudah mengetahui dimana batas kapasitas diri Anda? Setahu saya, belum ada orang yang mampu mengenali batas maksimal potensi dirinya. Jika Anda berkutat dengan waktu, maka pasti ada banyak keterbatasan. Tetapi jika bersedia belajar mengoptimalkan potensi diri, maka Anda tidak akan pernah kekurangan bahan bakar untuk terus menghasilkan karya terbaik dalam hidup.

3. Kualitas pekerjaan Anda, bukan berapa lama Anda mengerjakannya.Coba perhatikan, berapa lama Anda mengerjakan tugas-tugas Anda di kantor. Banyak orang yang bekerja sedemikian lamanya, namun produktivitasnya tetap saja rendah. Mengapa bisa begitu? Karena masih banyak orang yang mengira bahwa semakin lama mengerjakannya, semakin terlihat bagus konditenya. Makanya banyak orang yang berlama-lama di kantor namun tidak jelas apa yang dikerjakannya. Berfokuslah kepada kualitas kerja Anda, maka dalam 8 jam yang Anda habiskan dikantor, Anda bisa menghasilkan lebih banyak karya nyata. Itulah prinsip fundamental produktivitas kerja.

4. Manfaat pekerjaan Anda, bukan jumlah waktu yang Anda berikan.Pernahkah Anda mengukur nilai manfaat dari setiap aktivitas Anda? Banyak orang yang meluangkan waktu begitu banyak untuk hal-hal yang sia-sia, dan menunda-nunda hal-hal yang sangat penting. Ini bukanlah soal memenuhi kesenangan, melainkan soal prioritas hidup. Apakah Anda akan memprioritaskan aktivitas yang memberi manfaat kepada orang banyak atau mendahulukan ego belaka. Sudah saatnya untuk benar-benar menyadari bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dipenuhi oleh kesia-siaan. Sedangkan setelah kehidupan ini berakhir, ada sebuah sidang pertanggungjawaban.

5. Perpanjangan jumlah amal Anda, bukan perpanjangan waktu. Waktu tidak pernah bisa diperpanjang, termasuk dalam pertandingan sepak bola sekalipun. Tetapi Anda bisa memperpanjang jumlah amal dengan cara menggunakan waktu untuk saling menasihati dalam melakukan kebaikan dan mengurangi keburukan. Ketika seseorang berbuat baik sesuai dengan ajakan Anda, maka pahalanya mengalir terus. Ketika dia berhenti berbuat keburukan seperti yang Anda nasihatkan, maka pahalanya juga terus Anda dapatkan; bahkan sekalipun Anda sudah meninggal. Waktu tidak bisa diperpanjang. Tetapi amal baik setiap umat manusia, bisa menjadi investasi abadi.

Mari berhenti mengeluhkan tentang terbatasnya waktu. Karena berapapun waktu yang kita miliki tidak akan pernah kita anggap cukup. Mulailah ‘Mengelola Diri’ dengan berfokus kepada ‘apa yang kita lakukan’ dalam waktu yang serba terbatas ini. Karena tindakan kita dalam mengisi waktu itulah yang akan menentukan apakah kita memiliki daya saing yang tinggi atau tidak? Karena setiap tindakan kita menentukan apakah di akhirat kelak kita akan memiliki limpahan waktu untuk bersenang-senang. Atau terlalu banyak waktu untuk menanggung kemarahan Tuhan.

Source : DadangKadarusman

Sabtu, 24 April 2010

CARA MEMPERBAIKI NASIB DIRI

"Sesungguhnya Alloh tidak akan merubah suatu kaum, sehingga kaum itu mau melakukan perubahan".
Kalimat diatas tercantum dalam salah satu ayat dari Al Qur'an..( surat apa ? Ayat ke berapa ? ..
belum temu nih ).
Ya..ayat ini secara jelas dan tegas, bahwa Sang Maha Pencipta mengingatkan pada manusia tentang adanya fenomena perubahan. Evelyn Waugh mengatakan, perubahan adalah satu satunya bukti kehidupan ( di bumi ).

Hal benar yang harus kita akui adalah bahwa perubahan adalah hal yg biasa bagi manusia. Tapi anehnya, banyak di antara manusia tidak menyadari sesuatu telah berubah, mendiamkannya, tdk meresponnya.
Pada dasarnya manusia bisa menerima suatu perubahan. Yang sebenarnya terjadi, adalah manusia bukan nya enggan berubah/merubah, tetapi manusia itu enggan dirubah. Ini mengandung makna bahwa perubahan akan terjadi dan muncul dari dalam diri manusia yg akan mengerjakan perubahan. Akan tetapi beberapa di antara manusia itu butuh sosok pemimpin yg bisa memimpin mereka untuk berubah. Menurut Renald Khasali, pemimpin harus bisa bertindak seperti seorang seniman profesional yang menggunakan "bell" perubahan seakan akan bkn berasal dari pemimpin, melainkan dari para manusia yg akan mengerjakan perubahan itu sendiri. Bel ini disebut "a wake up call", yaitu bel yg membangunkan kita dari tidur malam. Begitu bel berbunyi kita merasa kesal, jengkel, tdk suka, namun juga berterima kasih. Kita bangkit dari tidur, meski mungkin dg rasa malah dan kantuk masih melekat.
Sebagian besar manusia berpikir kalo perubahan itu dilakukan ketika ada suatu masalah. Pada kenyataannya ketika ada masalah ( saat kritis ) hampir tidak mungkin kita bisa melakukan perubahan. Hal ini disebabkan karena pada saat itu manusia sudah tidak punya energi dan sumber daya untuk melakukan perubahan. Untuk mengatasi hal diatas maka seorang manusia hrs bisa memanajemen dirinya. Bagaimana caranya . ? Caranya adalah dg menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :

  • Apa yg dapat saya lakukan agar ini menjadi lebih baik lagi ? 
  • Apa saja kesalahan-kesalahan yg telah saya perbuat ? 
  • Kebaikan-kebaikan apa yg belum saya kerjakan ?

Selasa, 22 Desember 2009

Tujuh Kebiasaan setiap Hari

"Bisa karena terbiasa".Begitu kira-kira pesan nenek moyang.Memang untuk bisa menjadi atau melakukan sesuatu, maka kita harus membiasakan diri melakukan sesuatu.
Dan secara fitrah Tuhan telah menciptakan manusia dengan dibekali berbagai macam potensi dalam diri setiap manusia. Tinggal bagaimana setiap manusia itu memupuk, menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka masing-masing. Sehingga potensi-potensi itu menjadi "sesuatu" yang berguna bagi dirinya sendiri, diri orang lain dan juga lingkungan yang ada di sekitar dimana seseorang itu berada.
Trus ..kebiasaan apa saja yg harus kita biasakan ?


Menurut Steven R.Covey, ada 7 kebiasan ( the seven habbits ) yg perlu kita pupuk dan piara dalam keseharian kita. Kebiasaan itu adalah :

1.MENJADI PROAKTIF
Dengan cara :
*Bertanggung jawab atas perilaku kita sendiri -masa kini, lalu dan yang akan datang-
*dan membuat pilihan pilihan berdasarkan prinsip-prinsip serta nilai-nilai ketimbang pada suasana hati atau keadaan
*Melakukan perubahan dan tidak bersikap reaktif, untuk tidak menyalahkan orang lain
*Melakukannya dengan mengembangkan serta menggunakan keempat karunia manusia – kesadaran diri, hati nurani, daya imajinasi dan kehendak bebas—
*Menggunakan pendekatan dari dalam keluar. Bukan sebaliknya
*Bertekad menjadi daya pendorong kraetif dalam hidup mereka sendiri

2.MERUJUK PADA TUJUAN AKHIR
Dengan cara :
- Menjalani kehidupan sehari-hari dengan tujuan yang jelas
- Membuat komitmen terhadap diri sendiri untuk mencapai tujuan

3.MENDAHULUKAN YANG UTAMA
- Memfokuskan perhatiaannya pada apa yang paling penting, entah mendesak entah tidak.

4.BERPIKIR MENANG = MENANG
Dengan cara :
- Berusaha mencapai keuntungan bersama, didasarkan pada sikap saling menghormati dalam semua interaksi ( semua bisa merasakan, menikmatinya )
- Tidak berpikir egois
- Berpikir saling tergantung
- Mencari solusi yang sama-sama menguntungkan

5.BERUSAHA MEMAHAMI TERLEBIH DAHULU, BARU DIPAHAMI
Dengan cara :
- Mendengarkan dengan seksama, untuk memahami orang lain ketimbang untuk menanggapinya
- Berusaha memahami menuntut kemurahan

6.MEWUJUDKAN SINERGI
Dengan cara :
- Menghasilkan alternative ketiga . “Bukan caramu dan bukan pula caraku, tetapi cara ketiga yang lebih baik ketimbang cara kita masing-masing”
- Memanfaatkan perbedaan-perbedaan yang ada dalam mengatasi masalah dan memanfaatkan peluang

7.MENGASAH “GERGAJI” :
Dengan cara :
- Memperbaharui diri terus menerus dalam keempat bidang dasar kehidupan :
>>FISIK,
>>SOSIAL/EMOSIONAL,
>>MENTAL,
>>ROHANIAH/SPIRITUAL