Sabtu, 07 Mei 2011

Bahasa Indonesia Kemungkinan Jadi Bahasa Resmi ASEAN

Liputan6.com, Jakarta: Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie mengatakan, Majelis Antarparlemen ASEAN (/AIPA) kemungkinan akan mencantumkan ketentuan dalam Statuta AIPA yang menyatakan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ASEAN. "Itu kita sampaikan di forum dan semuanya langsung menerima dan akan dimasukkan dalam statuta AIPA," kata Marzuki setelah menghadiri pertemuan antara delegasi AIPA dan para pemimpin negara-negara anggota ASEAN di Balai Sidang Jakarta, Sabtu (7/5).

Dalam pertemuan AIPA sebelumnya, imbuh Marzuki, sebagian besar delegasi AIPA menerima usulan Indonesia untuk mencantumkan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi atau bahasa kerja di kawasan ASEAN. Menurut dia, para delegasi memahami bahwa bahasa Indonesia tidak hanya dipahami dan digunakan di Indonesia, tapi juga digunakan di sejumlah negara anggota ASEAN. "Begitu kita sampaikan langsung bisa saling mengerti dan memahami," katanya.

Hanya saja, menurut Marzuki, pencantuman bahasa Indonesia di dalam Statuta AIPA masih harus melalui beberapa tahapan, salah satunya adalah proses amendemen statuta. "Perubahan statuta akan dibahas pada bulan September akhir tahun ini di Kamboja," katanya.

Marzuki adalah delegasi parlemen Indonesia yang menyampaikan usul pencantuman bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ASEAN. Usul itu disampaikan dalam sesi pleno pertama Sidang Umum ke-31 AIPA di Hanoi, Vietnam, 21 September 2010.

Usul Marzuki ini sebenarnya telah mengemuka sejak awal kedatangan delegasi DPR ke Hanoi, Vietnam, pada pertemuan parlemen ASEAN tahun lalu itu. Sebelumnya, dalam pertemuan Komite Eksekutif AIPA, Indonesia juga telah mengusulkan amendemen statuta AIPA agar bahasa Indonesia masuk dalam bahasa kerja AIPA, selain bahasa Inggris.(ANS/Ant)
dikutip dari :http://berita.liputan6.com/sosbud/201105/333260/bahasa_indonesia_kemungkinan_jadi_bahasa_resmi_asean

Big Bang Siap Mengebrak Indonesia


Kapanlagi.com - Satu lagi boyband asal Korea siap menggebrak Indonesia. Kali ini diberitakan Big Bang, bakal tampil di acara Jakarta International Teen Festival (JITF), pada tanggal 28 Mei 2011.
Promotor Berlian Entertainment pun telah membuat pengumuman resmi melalui twitter mereka mengenai kedatangan boyband ini, di mana Big Bang dijadwalkan tampil bersama Katy Perry dan 24herbs.
"Jakarta International Teen Festival 28 may 2011 with the line up : Katy Perry (USA) , Big Bang(Korea), 24herbs… (cont) http://deck.ly/~ocH25," tulis akun twitter @Berlian_ENT, salah satu promotor yang sempat mendatangkan Justin Bieber ini, Selasa (26/04).
Promotor pun meminta penggemar bersabar mengenai info lebih lanjut soal JITF. Selain itu, sebelum pengumuman yang dibuat oleh promotor ini, dari beberapa situs penggemar Korea yang ada, Big Bang ditulis masuk sebagai line up artis dalam acara Dream Concert yang digelar di Seoul World Cup Stadium, 28 Mei mendatang.
Meski promotor telah menuliskan kedatangan Big Bang, tentu hal ini menimbulkan pertanyaan karena boyband ini bisa diberitakan tampil di dua tempat yang berbeda secara bersamaan yaitu pada tanggal 28 Mei 2011.
Apakah mereka bakal membatalkan salah satunya, atau para personil yang datang hanya sebagian, masih belum ada konfirmasi resmi mengenai hal ini.

CINTA FITRI TAMAT DI INDONESIA DI MALAYSIA TAYANG

MUNGKIN tak banyak yang tahu kalau Rizky Hanggono sempat bermain di sinetron Cinta Fitri.Lawan main Dian Sastrowardoyo dalam Ungu Violet ini berperan sebagai Firman, calon suami Fitri (Shireen Sungkar) yang akhirnya meninggal. Belakangan, TV9 Malaysia gencar menayangkan promo Cinta Fitri. Namun, ‘penampakan’ Teuku Wisnu,Promo sinetron yang menyapa masyarakat Malaysia mulai 9 Mei itu malah lebih banyak menyorot adegan romantis Rizky Hanggono-Shireen Sungkar. Berikut official promo yang diambil dari channel resmi TV9 di Youtube. 
http://pangeran229.wordpress.com/2011/05/05/cinta_fitri/

Jumat, 06 Mei 2011

TOURBILLON: Sebuah Kontroversi

Abraham Louis Breguet tentunya tidak menyangka dengan kalau perkembangan Tourbillon yang diciptakannya pada tahun 1795 menjadi begitu fenomenal dan menjadi sebuah penanda bagi jam-jam yang memiliki prestige tinggi. Awalnya, Breguet menciptakan Tourbillon karena dia melihat akurasi sebuah jam kantong (saat itu belum ada jam tangan) sangat dipengaruhi oleh gaya grativasi bumi. Posisi jam kantong biasanya diletakkan secara horisontal (menggantung) baik pada saat digantungkan di baju ataupun saat disimpan. Posisi yang konsisten seperti ini memberi pengaruh kepada mekanisme movement saat berdetak, yaitu gaya tarik ke bawah (gravitasi). Untuk mengatasi masalah ini, salah satu jalan adalah dengan membuat balance wheel, balance spring dan escapement berputar 180 derajat. Desain escapement Tourbillon yang bergerak berputar ternyata dapat mengurangi gaya tarik yang terjadi dan secara langsung berdampak pada tingkat akurasi. Tourbillon yang umum dibuat biasanya berputar satu putaran selama 60 detik. Alasan lain bagi Breguet terkait akurasi sebuah jam kantong dan hubungannya dengan Tourbillon adalah karena belum adanya cairan pelumas yang baik yang berpengaruh terhadap pergerakan movement.

Perkembangan Tourbillon saat ini tidak lagi sesuai dengan apa yang menjadi tujuan utama Breguet saat menciptakan pertama kali dulu. Tourbillon kini sudah banyak digunakan dalam sebuah jam tangan, bahkan jenis-jenis inovasi dan evolusi sebuah Tourbillon bermunculan. Tipe-tipe Tourbillon baru ini biasanya diciptakan oleh para independent watchmaker yang memiliki reputasi 'master'. Tourbillon kini mulai dilihat sebagai sebuah pertanda 'haute horlogerie' bagi sebuah merek yang memakainya. Maksudnya, jam tangan yang menggunakan Tourbillon dipandang sebagai sebuah jam yang high class, memiliki estetika tinggi, complicated dan semua ini tentu saja berbanding lurus dengan harga yang juga luar biasa mahal.

Apakah sebuah jam tangan perlu diberikan tambahan Tourbillon untuk meningkatkan akurasi? kalau melihat tujuan dan fungsi awal dibuatnya Tourbillon oleh Breguet, sebuah jam tangan modern tidak memerlukan Tourbillon kalau terkait akurasi. Karena desain dan konstruksi sebuah jam tangan berbeda dengan jam kantong. Sebuah jam tangan tidak lagi banyak dipengaruhi oleh gaya gravitasi karena posisi jam tangan seringkali berubah ketka dikenakan, tidak lagi dominan horisontal seperti halnya jam kantong. Kalau begitu, apa manfaat Tourbillon dalam sebuah jam tangan?

Saya nukil beberapa pendapat dari independen master watchmaker terkait Tourbillon. Yang pertama adalah pendapat Francois-Paul Journe (foto di bawah), salah satu master watchmaker yang beberapa kali memenangkan Grand Prix sebagai pembuat jam terbaik.

"Kalau dilihat dari perspektif akurasi, penggunaan Tourbillon dalam sebuah jam tangan adalah kesia-siaan. Menambahkan fungsi tourbillon ke dalam sebuah jam tangan ibarat 'mematahkan lutut sebelum kita lari sprint 100 meter'. Mengapa membuat jam tangan dengan Tourbillon? karena jam tersebut akan terlihat indah, complicated, menunjukkan skill yang tinggi dari pembuatnya. Menurut pendapat saya, setiap watchmaker yang membuat Tourbillon setelah Breguet, termasuk juga saya, akan tetap membuatnya karena jam menjadi lebih cantik dan menunjukkan ketrampilan kami para watchmaker - tapi hal ini tidak terkait dengan tujuan membuat jam yang lebih akurat dan presisi. "

Pendapat lain diberikan oleh Philippe Dufour seorang master watchmaker senior yang sangat dihormati. Dia mengatakan:

"Prinsip kerja sebuah Tourbillon dan manfaat utamanya disesuaikan dengan kebutuhan sebuah jam kantong. Dan keberadaan, fungsi dan manfaatnya hampir tidak bisa dirasakan....ketika Tourbillon dimasukkan dalam sebuah jam tangan"

Penjelasan lebih teknis diberikan oleh Giulio Papi, direktur teknik dan pendiri Audemars Piguet Renaud & Papi. "Tourbillon memiliki efek yang positif dan pengaruh ke akurasi apabila memenuhi beberapa keadaan. Yang paling penting, sebuah Balance wheel harus berdiameter minimal 10mm dan memiliki vibrasi minimal 21,600 beat per hour (bph). Dengan ukuran dan vibrasi seperti ini sebuah Tourbillon bisa memberi dampak positif terhadap akurasi. Tapi apabila balance wheel berdiameter < 10mm maka berdampak sebaliknya".

Penjelasan dari Giulio Papi diatas menunjukkan bahwa desain Tourbillon memang hanya dibuat spesifik untuk jam kantong yang posisi peletakannya dominan dilakukan secara horisontal. Dengan posisi horisontal memang tidak diperlukan sebuah Tourbillon yang besar sebagai pengalih dari gaya tarik gravitasi. Desain Tourbilon dengan balance wheel berdiameter minimal 10mm dalam sebuah jam tangan tentu saja akan menyita sebagian besar 'wajah' jam dan ini akan berdampak pada diameter sebuah jam tangan. Keberadaan sebuah Tourbillon pada sebuah jam tangan lebih banyak menimbulkan friksi dan membuang-buang energi (karena perlu tenaga besar untuk menggerakkan Tourbillon). Karena tidak banyak memberi manfaat (selain manfaat visual tentunya), maka Jean-Claude Nicolet menyebutnya sebagai 'parasitical organism'.

Tidak seperti saat Tourbillon pertama kali dibuat dan diaplikasikan pada jam kantong, Tourbillon pada sebuah jam tangan selalu diekspos keberadaannya pada dial. Hampir semua jam dengan Tourbillon selalu mengutamakan penampakan bagisn ini dengan tingkat estetika yang tinggi dan seringkali menjadi penarik utama penampilan sebuah jam tangan. Ada sesuatu yang 'romantis' dan menentramkan ketika melihat sebuah tourbillon berdetak dan berputar secara konstan. Keberadaan Tourbillon seolah menampilkan kejayaan kemampuan dan estetika yang tinggi dari para master watchmaker.

Mungkin karena tingkat kerumitan dan estetika yang tinggi, maka hampir semua jam Tourbillon bernilai mahal. Sebuah jam Tourbillon sederhana buatan Swiss dihargai minimal US$ 42,000 dan harga itu mencapai batas hingga jutaan dollar ketika memiliki beberapa feature tambahan seperti Minute repeater, chronograph dll. Dengan semakin majunya teknologi manufacturing jam, membuat sebuah tourbillon bukanlah lagi menjadi sulit. Kecanggihan sebuah mesin CnC dapat membuat parts hingga dimensi terkecil. Karena itu saat ini banyak movement Tourbillon buatan China, yang tentu saja harganya jauh lebih murah dan diperkirakan 'hanya' US$1,000 saja, dan kualitas performance-nya tidak kalah dengan tourbillon buatan Swiss!

Tentu saja dari segi kualitas buatan dan detail dari asembling part sebuah Tourbillon buatan Swiss dan China ada perbedaan yang jelas, tapi besar kemungkinan perbedaan kualitas yang lebar menjadi semakin sempit seiring kemajuan teknlogi manufacturing. Meskipun Tourbillon tetap menjadi 'controversy' terkait fungsinya, namun keberadaan jam Tourbillon tetap mendapatkan tempat khusus bagi para penggemar dan kolektor jam-jam high-end dan mereka lebih melihat kepada unsur estetika dan romantisme pergerakan torbillon yang seolah merefleksikan kembali kejayaan masa lampau para master watchmaker dunia.