Jumat, 05 Januari 2007

Mohammad Hatta Indonesia's other hero of independence

Time Magazine Nov. 5, 2006 By Emil Salim
Indonesia's struggle for independence is typically identified with one larger-than-life figure: the irrepressible Sukarno—proud, charismatic, a firebrand orator, but also capricious and wont to personal mood shifts that would jostle the country. While Sukarno was the flamboyant face of the fight to liberate Indonesia from Dutch rule, he was only one-half of a tandem that was a study in contrasts. Sukarno's cohort was Mohammad Hatta, studiously humble, deeply Muslim yet open to all faiths, and unfailingly direct. Indonesians may worship Sukarno, Indonesia's first President, but they love his former deputy Hatta, not just for what he did for his country but for what he, rather than Sukarno, still represents. Today, 26 years after his death, Hatta remains a symbol of what Indonesia aspired to become but has yet to fully achieve: an egalitarian and tolerant land with dignity for all.
That was Hatta's goal, and the path to it first required shaking off the colonial yoke. Hatta was born on Sumatra in 1902, but moved to the Netherlands as a student in 1921 and spent more than a decade there. During that period, he created the Indonesian Association in the Netherlands, at a time when just saying the name Indonesia was a radical act (the Dutch called the archipelago Netherlands Indie). He launched a "non-cooperation" campaign in the Netherlands, which drew the attention of nationalists in Indonesia like Sukarno. In 1927, the Dutch imprisoned Hatta for being antigovernment. The charges didn't stick; Hatta was released and went back to his studies in Rotterdam. He returned to Indonesia in 1932, organized a political movement against the Dutch, and spent eight of the next 10 years in jail. When the Japanese ousted the Dutch in 1942, Hatta was freed because the Japanese wanted his and Sukarno's help to run the sprawling archipelago. They went along, all the while putting together a shadow administration for the day the Japanese would themselves surrender. In the run-up to independence in August 1945, Hatta persuaded Islamic leaders to drop their demand that the President had to be Muslim and that shari'a law be enacted for Muslim citizens, and enshrined in the constitution the recognition of other religions and the rights to assembly and expression.
Ten years later, Hatta broke with Sukarno. I was a student leader at the time and he gave me and 11 of my associates the news firsthand on the verandah of his official residence in Jakarta. Hatta opposed Sukarno's increasing authoritarianism and his strategy of playing off nationalists, communists, Islamists and the military against one another—which Hatta believed would bring the nation grief. It did. In 1965, a major-general called Suharto used the chaos created by such intrigue to seize power in a bloody coup—some half a million people died—to prevent an alleged communist takeover.
Hatta went on to teach economics and politics at a university in Yogyakarta, but continued to criticize policies he felt were detrimental to Indonesia, under both Sukarno and Suharto. He spoke out against corruption, poor governance, a weak judiciary, the gap between rich and poor. Today, Indonesia has progressed on all these fronts, but not so far as to be able to do without a Hatta. When he died in 1980 at the age of 77, he was buried not in the Heroes Cemetery in Jakarta but, as he requested, a few kilometers away in a common graveyard. I remember watching as thousands lined up, with tears in their eyes, to pay their respects to the country's first truly democratic leader.

Photograph : Dwitunggal visit East Java, April 1946

Rabu, 03 Januari 2007

New Man, Old Demands


Time Magazine Nov. 26, 1945
Britons and Indonesians still killed each other in The Netherlands East Indies last week. They did not know quite how to stop.The British got Dutch and Indonesian leaders together in Batavia for an in conclusive peace talk. The Dutch had refused to deal with President Soekarno of the "Indonesian Republic" because he collaborated with the Japs. So Soekarno, while keeping nominal power, took a back seat and a new Premier appeared. The new Indonesian leader is small (4 ft. 10½ in., 100 lbs.), scholarly, socialistic Sjahrir, 36. He met his Dutch wife while studying law at Amsterdam, later saw her packed back to Holland when the Dutch exiled him for nationalist activities. He has never seen their twelve-year-old son. Sjahrir was kept in exile until 1942. During the Jap occupation he grew pineapples and helped organize the resistance movement.At the Batavia peace talk, Sjahrir demanded at least a guarantee of eventual independence. The Dutch would not give it. Further talks were scheduled, though agreement seemed remote. Meanwhile, the British seized Semarang in central Java after nationalists murdered three officers there. At Surabaya Britain's Indian troops inched forward after nine days of bitter fighting.

Senin, 01 Januari 2007

Bung Karno muncul pada cover Time 23 Desember 1946

23 Desember 1946, 60 tahun yang lalu, Presiden Soekarno muncul sebagai Cover majalah Time. Cover Storynya oleh TIME Correspondent Robert Sherrod diceritakan : Soekarno seorang Indonesia dengan tinggi badan 5 ft 8 in, dengan wajah pribumi terhitung ganteng. Bahasa Indonesianya begitu baik sehingga mendapat julukan si Kamus Indonesia. Dia adalah seorang Orator dimana Sherrod telah mengirim gambar untuk kulit muka. Pada gambar ini, tampak Soekarno sedang berpidato dihadapan 5.000 orang wanita. Pada umumnya dia berpidato sekitar 65 menit. Kadang dipakainya sebuah kaca mata baca untuk membaca sebuah tulisan. Saya belum pernah melihat seorang orator yang dengan mudahnya dan meyakin mempengaruhi para pendengarnya. Soekarno berpidato pada awal secara lambat dilanjutkan bagai sebuah senapan mesin. Terkadang dia menjulurkan jarinya kearah para pendengar, kemudian bertolak pinggang lalu mengurangi nada suaranya. Para pendengar yang penuh ketertarikan, tertawa bersamanya, serius mendengarkan, bersimpati padanya saat dikatakannya dirinya baru saja sembuh dari sakit sehingga perlu menggunakan mantel (mantel dilepas sesudah setengah jam kemudian). Salah satu pidatonya :”Idealnya kita memiliki mobil untuk setiap orang. Saya baru saja menerima surat dari seorang gadis yang bercita-cita menjadi pilot pesawat udara. Itu bagus, cantumkan cita-citamu setinggi bintang dilangit. Kita bisa tertawa, kita bisa makan, pada suatu hari nanti kita juga punya pakaian. Tapi cita2 kita sukar tercapai secara mudah. Kita harus berjuang untuk itu ! “. Pabila selesai berpidato, para pendengarnya menyanyikan sebuah lagu kebangsaan “Indonesia Raya” Nadanya mengambil dari lagu Boola, Boola. Refrainnya adalah : “Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku, Disanalah aku berdiri, menjadi pandu ibuku”….Pada setiap akhir pidatonya, tangannya lalu dikepalkan dan dengan suara geledek diucapkannya : “Merdeka, Merdeka, Merdeka !”. Para pengikutnya segera mengikuti berteriak kata yang sama. Kata ini terpampang pada papan propaganda, seperti halnya “Heil Hitler” dalam propaganda Nazi. Soekarno saat itu diberi gelar “Bapak Kemerdekaan” Tulisan ini secara singkat juga menjelaskan riwayat hidup Soekarno, mulai dari masa kecil, mahasiswa ITB dan kemudian terjun kedunia politik, dan akhirnya jadi Presiden RI yang pertama.

Jumat, 22 Desember 2006

Sebelum menikah dengan Hartini. Soekarno tidak melakukan Poligami

Dalam bukunya "Mohammad Hatta, memoir", Bung Hatta yang ayah Menteri Peranan Wanita Meutia Hatta ini bercerita soal proses perkawinan Soekarno dan Fatmawati pada zaman Jepang : "Pada suatu waktu aku dengar berita, bahwa Soekarno akan kawin lagi dengan seorang anak didiknya di Bengkulu, yang namanya yang asli diubah menjadi Fatmawati. Wanita ini tidak lama lagi akan datang ke Jakarta. Alasan Soekarno ialah bahwa Ibu Inggit tidak dapat mempunyai anak lagi, sedangkan Soekarno ingin mempunyai turunan. Menurut Kyai Mansur, mungkin Ibu Inggit tidak berkeberatan, sebab ia sendiri kenal Fatmawati. Waktu di Bengkulu, Fatmawati sering datang ke rumahnya dan sering pula bergaul dengan dia. Malahan dipandangnya sebagai anaknya sendiri. Dalam pada itu, atas petunjuk Soekarno, Shimizu dapat mengusahakan, supaya Pegangsaan Timur 56 dapat ditentukan untuk rumah kediaman Soekarno. Ibu Inggit masih tinggal di rumah di pojok jalan Oranye Boulevard dan jalan Mampang. Pada suatu hari Soekarno datang ke kantorku, mengatakan kepadaku, bahwa ia terpaksa bercerai dengan Inggit, tetapi beberapa syarat yang berhubungan dengan perceraian itu dibuat di muka anggota empat serangkai lainnya. Aku menjawab bahwa apabila perceraian itu tidak dapat dihindarkan, aku bersedia, syarat-syarat akibat perceraian itu dibuat oleh empat serangkai pada kantorku itu. Harinya kami tentukan keesokan harinya, kira-kira jam 10 pagi dan Soekarno akan memberitahukan kepada Dewantoro dan Kiayi Mansur. Keesokan harinya pada jam 10 pagi kami bersidang dikamarku. Syarat itu ialah : 1. Soekarno akan memberi belanja hidup saban bulan kepada Inggit selama hidupnya. 2. Soekarno akan membelikan sebuah rumah di Bandung untuk kediaman Inggit seumur hidupnya. Kedua syarat itu dibuat dimuka empat serangkai dan ditanda tangani oleh empat serangkai masing-masing. Aku kira syarat itu tidak berat dan masuk akal. Soalnya ialah siapa yang akan mengawasi bahwa kedua syarat itu dilaksanakan oleh Soekarno ?". Shimizu adalah kepala pusat propaganda bala tentara Jepang ke 16 yang amat berkuasa untuk membagi-bagi rumah tinggalan Belanda. Oranye Boulevard adalah jalan Diponegoro sekarang dan jalan Mampang adalah jalan Tjikditiro sekarang. Empat serangkai adalah istilah kelompok para pemimpin Indonesia dizaman Jepang yang dijuluki oleh Soekardjo Wirjopranoto pimpinan surat kabar Asia Raya. Mereka adalah Soekarno, Hatta, Kiayi Mas mansur dan Kihajar Dewantoro. Foto atas : Hari Ibu tanggal 22 Desember 1947 bertempat dialun-alun Yogya. Tampak baris depan, dari kiri kekanan Bu Dirman, Bu Fatmawati, Pak Dirman dan Presiden Soekarno. Sedang berpidato Ibu SK Trimurti.