Panerai PAM 112F yang saya miliki menyertakan 2 macam straps, yaitu calf leather dan rubber strap. kedua jenis straps ini menurut saya berdesain 'biasa saja' dan keduanya berwarna hitam. Gambar di bawah adalah strap kulit original dari Panerai.
Jumat, 25 September 2009
PANERAI Straps
Rabu, 16 September 2009
Prof Slamet Iman Santoso

Oleh Prof Dr Sarlito Wirawan Sarwono
03 November 2007
Beberapa mahasiswa di tahun 1960-an (ketika saya masih kuliah di Fakultas Psikologi UI) pernah menyebutnya "si Kelinci", bukan karena telinganya atau giginya yang seperti kelinci, melainkan karena bajunya yang selalu putih-putih dan rambutnya yang juga putih, sehingga seperti kelinci putih. Dan memang sejak saya mengenal beliau di tahun 1961 (saya mulai menjadi mahasiswa psikologi UI), sampai terakhir kali saya (sebagai dekan Fakultas Psikologi UI) menengok beliau pada bulan Maret 2003 (dalam rangka Dies Fakultas Psikologi UI ke 50), saya tidak pernah melihat beliau berbusana selain putih. Tetapi buat saya, putih bersih itu bukan hanya menunjukkan keunikkan berbusana (kondangan ke pengantin pun tetap serba putih, bahkan mobilnya pun VW Kodok warna putih), melainkan mencerminkan kebersihan hatinya.
Saya selalu ingat salah satu ajaran beliau, "Jadi orang itu harus pintar dan jujur. Orang pintar tetapi tidak jujur akan jadi penipu; orang jujur yang tidak pintar selalu ditipu; sedangkan orang bodoh dan tidak jujur paling-paling jadi maling ayam yang tertangkap pula".
Ucapan beliau itu bukan seperti ucapan kebanyakan selebritis zaman sekarang (dari artis sampai politisi) yang hanya jadi hiasan bibir belaka. Pak Slamet (demikian para mahasiswa memanggilnya) sendiri adalah seorang yang sungguhsungguh bersahaja dan konsisten, serta konsekuen dengan ucapan-ucapannya. Salah satu konsekuensinya adalah beliau tidak pernah jadi rektor UI (apalagi jadi menteri), walau pun sudah berkali-kali menjabat sebagai Pembantu Rektor I, bahkan pernah menjadi Pejabat Ketua Presidium IKIP Jakarta.
Beliau adalah seorang yang sangat lurus, walau pun jarang sekali beliau mengucapkan "ikhdinaz sirotol mustakim", apalagi menghujani mahasiswanya dengan ayat-ayat yang tidak dimengerti, baik oleh umat maupun oleh pengucapnya sendiri. Tetapi justru hal yang tidak diinginkan Pak Slamet itulah yang sekarang menjadi kenyataan. Negara kita diatur oleh orang-orang pintar yang tidak jujur, sehingga banyak orang yang pandai membaca seribu ayat kitab suci, tampil bersorban dan berjanggut, namun juga melakukan KKN, rebutan jabatan, atau melakukan terorisme atas nama agama.
Di sisi lain, Indonesia sekarang juga dikelola oleh orang-orang bodoh yang tidak jujur. Celakanya, di era reformasi ini mereka tidak cukup puas jadi maling ayam, tetapi mereka bisa juga menduduki kursi legislatif dan eksekutif, sehingga tidak mengherankan jika banyak undang-undang dan peraturan yang justru bisa mengherankan orang-orang yang masih berakal sehat.
Kecemasan Pak Slamet tentang masa depan bangsa sudah timbul sejak ia membacakan pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Psikiatri Fakultas Kedokteran UI di Fakultas Teknik UI, Bandung (sekarang ITB) pada tanggal 3 Maret tahun 1952. Pada waktu itu beliau menyatakan bahwa masalah bangsa yang pada waktu itu sedang mengalami transisi dari era kolonial ke era kemerdekaan, tidak mungkin ditangani oleh para psikiater sendiri. Psikiater hanya bisa mengobati orang-orang dengan gangguan kejiwaan pada masa itu, namun tidak bisa menanganinya sampai tuntas.
Psikiater, misalnya, harus menangani berbagai masalah yang timbul akibat gagalnya sistem pendidikan sehingga banyak murid yang drop out, namun psikiater tidak bisa membantu para guru untuk melaksakana penddikan yang sesuai dengan perkembangan jiwa anak.
Demikian pula psikiater bisa mengurangi gejala stres pada para pejabat yang pada waktu itu harus mengisi pos-pos penting yang ditinggalkan Belanda, sementara mereka sendiri hanya mantan tentara revolusi yang tidak berpengalaman dan/atau berpendidikan.
Namun psikiatri tidak bisa memecahkan masalah "the right man in the right place". Maka dalam pidatonya itu ia mengusulkan agar di UI ada pendidikan psikologi, yang diawali pada tahun 1953 (dianggap sebagai lahirnya Fakultas Psikologi UI), dengan pembukaan Balai Psikoteknik di UI yang mendidik asisten psikolog. Balai psikoteknik ini kemudian menjadi Jurusan Psikologi dari Fakultas Kedokteran UI, dan pada tahun 1960 menjadi Fakultas Psikologi UI yang berdiri sendiri.
Dalam pidatonya sebagai Doctor HC dalam bidang psikologi, pada tanggal 3 Maret 1973, Prof. Dr (HC) dr. R. Slamet Iman Santoso mengulangi lagi komitmen dan harapannya pada psikologi di Indonesia. Beliau mengatakan daam pidatonya tersebut, "Sekalipun semua usaha sosial di Indonesia mempunyai potensi nation building, namun ilmu Psikologilah yang langsung menghubungi manusia Indonesia, baik yang muda maupun yang tua, baik yang tidak mau berubah, maupun yang saking berubahnya sampai tergelincir. .... Justru dalam negara yang kebudayaan terbentang antara jaman batu di Irian Barat, sampai jaman nuklir dan ruang angkasa, maka peran Psikologi adalah sangat perlu untuk menjadi perantara dalam hal modernisasi".
Sekarang ilmu Psikologi yang pertama sekali dicanangkan oleh pak Slamet itu sudah menjadi ilmu yang mapan dan Alumninya sudah ribuan, tersebar di seluruh Indonesia dan dihasilkan oleh puluhan (konon sudah mencapai angka 70) program studi di berbagai Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta.
Pertanyaan kita sekarang adalah mengapa justru pada saat imu Psikologi di Indonesia sedang menuju puncak, kondisi bangsa malah terpuruk sampai tingkat yang paling rendah (antara lain menjadi salah satu negara terkorup dan paling sadis di dunia, di samping juga paling miskin). Apakah Pak Slamet telah salah ketika ia mulai menggagas tentang perlunya pendidikan psikologi di Indonesia 52 tahun yang lalu? Tentu saja tidak. Di berbagai negara maju, psikologi telah dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan manusia, mulai dari pendidikan, sampai dengan periklanan dan konseling perkawinan. Tetapi orang Indonesia nampaknya memang belum siap betul menerima masukan dari psikologi. Sebagai contoh adalah kebijakan pembangunan bangsa, yang menurut psikologi, sejak Repelita I, seharusnya berfokus pada manusia (pendidikan berkualitas tinggi, gaji dan kesejahteraan yang mencukupi, kesempatan untuk berkembang dan berkarir yang sehat). Dalam praktiknya, dengan alasan keterbatasan dana dan sebagainya, maka pembangunan fisiklah yang diutamakan.
Akhirnya pemerintah Suharto tumbang sebagai sebuah rezim yang paling dinista oleh rakyatnya sendiri. Tetapi rezim-rezim yang berikut (Habibi, Gus Dur sampai Megawati), juga tidak terlalu menganggap penting psikologi, karena asyik dengan permainan mereka masing-masing, mulai politik sampai klenik. Bagaimana dengan era SBY-JK? Walau telah diawali dengan tragedi rebutan kursi di DPR, nasib bangsa kita pasti akan membaik jika saja kita mau melaksanakan amanat Prof. Dr (HC) dr. R. Slamet Iman Santoso: fokus pada pembangunan manusia (baca: pendidikan), jadikan bangsa ini sebagai bangsa yang tidak hanya pandai, tetapi sekaligus juga jujur. Diambil dari
http://sarlito.hyperphp.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=12
Rabu, 09 September 2009
Movement Automatic Chronograph yang Paling Banyak Dipakai
Sudah menjadi hal yang wajar dalam dunia horologi untuk membeli movement utuh dari pabrikan lain yang memiliki core competence dalam pembuatan movement. Hal ini dilakukan karena biaya Riset & Development dalam membuat movement Inhouse sangatlah mahal dan butuh waktu lama. Banyak pabrikan jam yang memproduksi movement chronograph ini dan kemudian dibeli/ dipasang di banyak merek jam lain dengan atau tanpa melakukan modifikasi.
Dalam posting ini saya memaparkan beberapa movement automatic chronograph yang saat ini masih menjadi primadona baik dari segi kehandalannya, kualitasnya maupun tingkat eksklusifitas. Semua movement dibawah ini masih diproduksi sampai sekarang. Sebagai informasi bahwa beberapa pabrikan movement seperti Valjoux, Lemania, ETA, F.Piguet dimiliki oleh konglomerat dunia horology SWATCH group. Semua gambar movement saya ambil dari internet.
VALJOUX Cal.7750
Movement ini sering disebut sebagai movement chronograph "sejuta umat" karena diketahui paling banyak digunakan dan dimodifikasi oleh banyak sekali brand. Modifikasi banyak dilakukan karena movement ini memang di desain untuk mudah dirombak dan ditambahkan feature lain seperti moonphase, triple date dll. Movement ini dikenal sangat tangguh dan terbukti memang bagus tingkat akurasinya. Dengan 25 jewels dan 28,800 bph, movement ini dipilih oleh banyak brand ternama untuk di modifikasi. Nama-nama seperti Franck Muller, IWC, Baume & Mercier, Cartier, Panerai dll merupakan 'langganan' movement ini. Saat ini Valjoux merupakan bagian dari ETA, supplier movement dan ebauches terbesar di dunia.
EBEL merupakan pelanggan terbesar movement ini. Breguet juga menggunakan dasar movement ini untuk produk mereka Type XX. Dengan 30 jewels dan 28,800 bph, movement ini sangat tangguh namun tidak ada variasinya, tidak seperti Valjoux 7750 yang memiliki banyak variasi modifikasi. Lemania juga membuat movement chronograph lain yang sangat terkenal yaitu Cal.5100, yang kini banyak digunakan oleh SINN dan TUTIMA.
Ini salah satu produk ETA yang laris manis untuk tipe automatic chronograph. Cal 2894 adalah salah satu pencapaian terbaik ETA dalam membuat movement dengan 37 jewels dan 28,800 bph. Movement ini memiliki jewels yang banyak (37) karena ini merupakan movement modular, dimana modul chronograph diletakkan diatas movement automatic Cal.28 series yang memiliki 21 jewels. Automatic movement seri 28 adalah juga salah satu mesin automatic non-chronograph terbaik dari ETA. ETA 2894 semakin banyak dipakai oleh brand-brand populer dunia karena mudahnya dimodifikasi. Brand seperti TAG HEUER, CHOPARD, OMEGA dan Baume & Mercier adalah sebagian dari pelanggan utama movement ini.
Mungkin ini adalah movement chronograph yang paling terkenal sepanjang waktu. Zenith pertama kali memperkenalkan movement ini pada tahun 1963/64, dan ini adalah satu-satunya jenis movement yang sejak pertama kali diluncurkan hanya mengalami perubahan yang sangat sedikit dan masih diproduksi sampai sekarang. El primero merupakan integrated chronograph movement 31 jewels dengan 36,000 bph, dan merupakan movement chronograph paling tinggi bph-nya. Karena kehandalan dan akurasi yang sangat baik maka tidak heran kalau Rolex meminta Zenith untuk membuat El primero untuk Rolex Daytona sampai tahun 2000. Movement ini juga digunakan untuk TAG HEUER Cal.36 ('kasta' tertinggi Tag), PANERAI, DANIEL ROTH, EBEL dll. Karena kualitas dan nama movement ini begitu melegenda, maka brand yang menggunakan movement ini akan secara jelas mempromosikannya "it have El Primero 'the legend' movement!".
Ini merupakan movement automatic chronograph pertama yang dibuat oleh PP pada tahun 2006. Memiliki 40 jewels dan 28,800 bph. Movement ini dilengkapi dengan solid 18K YG rotor dan 55 jam power reserve. 5960 merupakan automatic chronograph movement paling eksklusif yang pernah dibuat sampai saat ini. Dan seperti halnya Rolex, movement ini tidak dipakai oleh brand lain.
Ini merupakan salah satu movement Omega yang terbaik yang pernah dibuat. Movement ini mengambil basis movement PIGUET 1185 yang di up grade dengan memasukkan komponen co-axial escapement yang didesain oleh George Daniel. Co-axial escapement sendiri merupakan sebuah terobosan besar dalam dunia mekanikal movement. 3313 memiliki 37 jewels, 28,800 bph dan 55 jam power reserve.
Movement ini tergolong eksklusif karena brand-brand ternama seperti AUDEMARS PIGUET, BLANCPAIN, CARTIER PASHA, VACHERON CONATANTINE dan Breguet merupakan pelanggan movement ini. Brand high-end banyak menggunkan movement ini karena di-klaim merupakan salah satu movement automatic chronograph terbaik yang pernah dibuat. Tidak heran kalau tipe movement ni merupakan idaman para kolektor jam di dunia. Movement ini memiliki 37 jewels dan 21,600 bph dengan ketebalan hanya 5,2mm.
Rolex mulai menggunakan movement ini pada tahun 2000 setelah melalui proses yang panjang dan biaya tinggi untuk mendesain dan memproduksi automatic chronograph movement secara in-house. Movement ini dibuat untuk mengganti movement El primero yang selama bertahun-tahun dipakai untuk tipe Daytona. Memiliki 44 jewels dan 28,800 bph, begitu diluncurkan langsung mendapat banyak pujian karena kekuatan dan akurasi yang tinggi. Power reserve terlama dibandingkan movement lain yaitu 72 jam.

Senin, 07 September 2009
Mengapa Soekarno "Ganyang Malaysia" ?

Ini disebkan paling tidak karena Soekarno merasa terhina dan terkalahkan dalam percaturan politik Internasional. Awalnya semuanya berkisar pada cita-cita Tungku Abdulrachman (Perdana Menteri Malaya yang merdeka tanggal 31 Agustus 1957) sejak awal 60-an untuk menciptakan Federasi Malaysia (tdd Malaya, Singapura, Serawak Sabah dan Berunai). Indonesia tidak setuju karena ini cuma akal-akalan Inggris untuk mempertahankan Neo Kolonialismenya dengan maksud menggencet Indonesia disegala bidang, khususnya ekonomi. Tapi tanpa persetujuan Indonesia, Federasi Malaysia berdiri juga pada tanggal 16 September 1963. Alhasil naik turunya politik Asia Tenggara juga berpengaruh pada negara-negara dikawasan tersebut. Pada suatu waktu tiba-tiba Indonesia yang penggagas Asia-Afrika mulai dicuekin oleh sejumlah negara yang pernah berkumpul di Bandung tahun 55 itu. Bukan tidak mungkin banyak negara Asia-Afrika ex jajahan Inggris bersimpati pada Malaysia. Bayangkan dalam Peringatan Ulang Tahun ke 10 Konperensi AA di Jakarta pada bulan April 65 tamu anggota yang hadir cuma 36 negara dari 60 anggota. Dan tiba-tiba Yang paling menyakitkan Soekarno juga adalah terpilihnya Malaysia sebagai anggota Dewan Keamanan PBB tidak tetap. Ini sudah benar-benar penghinaan yang kelewatan pikir Soekarno. Maka ditetapkannya Indonesia keluar dari PBB dan didirikannya CONEFO dengan pusatnya di Jakarta (gedungnya sekarang jadi DPR RI). Tentu saja sejumlah besar negara komunis mendukung. Dibentuknya garis Jakarta Peking Pyongyang. Optimisme Soekarno bukan tidak punya alasan. Bukankah kita baru berhasil menyelenggarakan TRIKORA sehingga Irian kembali. Indonesia memiliki kekuatan militer yang tidak ada taranya saat itu di Asia tenggara. Dan politik dalam negeri juga sedang kuat-kuatnya khususnya atas dukungan mayoritas golongan komunis dan nasionalis. Bukankah rakyat Brunai (katanya) menolak masuk federasi dan disana ada Azhari (bukan Dr Azhari teroris) pemimpin pemberontak yang sejalan pikirannya dengan kaum revolusioner ditanah air. Apa boleh buat kita "Ganyang saja Malasia ini". Di Jakarta diselenggarakanlah demo besar-besaran. Kedutaan besar Inggris didemo dan diduduki. Simbol kerajaan di congkel dan diinjak-injak. Rumah-rumah warga negara Malaysia dan Inggris diserbu (terbanyak oleh Pemuda Rakyat) dan aset milik Ingrris dan Malaysia diambil alih. Dinyatakan menjadi milik Indonesia. Saat itulah Duta Besar Inggris Gilchrist jadi bulan-bulan dimana dirinya dituduh memilik dokumen berisi usaha menghancurkan RI yang jatuh ketangan Waperdam - Menlu Dr Soebandrio. Keadaan memanas dibidang politik ini bukan tidak diikuti konfrontasi fisik. Sejumlah pasukan Indonesia secara sporadis sudah mendarat di wilayah Malaysia. Mereka melakukan sabotase. Dan pasukan Indonesia darat, laut dan udara sudah disiagakan penuh diperbatasan. Andaikata saat itu Soekarno bilang "serang Malaysia", pasti daratan Malaysia sudah diserbu. Tapi keadaan dalam negeri Indonesia saat itu tidak pas. Keadaan sosial ekonomi amat buruk. Ditambah lagi politik yang sangat tidak menguntungkan. Terjadi kucing-kucingan antara kelompok Komunis dan anti Komunis, khususnya antara PKI dan antek-anteknya dengan TNI khususnya Angkatan Darat. Hal ini oleh Soekarno tidak mampu diatasi. Bahkan menurut sejarawan John D. Legge, Politik Konfrontasi bukan dijalankan karena ulah Tungku Abdulrachman dan Inggris, tapi karena strategi politik Soekarno terhadap kebijakan luar negerinya sekaligus mengalihkan perhatian situasi nasional yang buruk dengan harapan justru akan memunculkan persatuan dalam negeri yang menguntungkan semua pihak di Indonesia termasuk meningkatkan semangat nasionalisme. Sejarah konfrontasi yang menurut pihak Sukarnois amat gilang gemilang akhirnya hancur lebur dengan peristiwa G30S PKI dan Soeharo muncul bersama orang dekatnya seperti Adam Malik dan Ali Murtopo diadakanlah Kunjungan Muhibah ke Malaysia. Proyek OPSUS ini mendatangkan semua yang menjadi begitu indah dan gemulai, Abdu Rachman, Razak dan sejumlah petinggi Indonesia, makan nasi minyak dan sejumlah gulai ala Malasia, sambil menyaksikan keprigelan penari Melayu (bukan Lenso) dengan dendang Pak Ketipak Ketipung. Damai-damai kita serumpun..bukaan ?. Bukan hal aneh kalau Malaysia sekarang dianggap kurang ajar macam sekarang oleh Indonesia. Indonesia memang orang yang cinta damai barangkali.
Selasa, 01 September 2009
Sidang KNIP pertama yang gaduh itu

Langganan:
Postingan (Atom)